`

Bagaimana Matahari Mati? (Bukan Supernova)

>> Jumat, 31 Desember 2010

ka bahas yang TO 4 kemarin dong yang no 4 essay...
Oleh Muhammad Alfid Kurnianto pada Nanya Dooooong pada 10/12/28


Dan inilah soal yang paling menghebohkan dalam Sejarah KebumianTryout:

Mengapa Matahari diprediksi tidak akan mengalami Supernova? Jelaskan maksimal dalam 4 kata (lebih poin dikurangi).
--Soal KebumianTryout esai no.4, Desember 2010

Biasanya untuk jawaban essay ‘kan kita sering ‘mengarang indah’, tapi sekarang bahkan jawabannya nggak boleh lebih dari 4 kata!

Tanya kenapa?

Kenapa oh kenapa para tryouters hanya boleh memakai 4 kata? Karena oh karena, memang soal ini bisa dijawab dengan singkat! Kali ini kita mencari inti terpenting dari sebuah jawaban. Menulis jawaban panjang itu gampang, geosciensters. Menulis dengan efektif dan efisien, itulah yang susah. KebumianZone ingin para geosciensters mampu menjawab soal essay di OSP dan OSN nanti dengan efektif dan efisien, sehingga skornya maksimum. Makanya, latihan terus di KebumianTryout... :)

Jadi, mengapa Matahari nggak bakal mati dengan Supernova? Eh.. eh.. tunggu dulu, emangnya Matahari bakal mati?
Sedih dong... T.T
Yup, ‘bayi’ matahari lahir sekitar 5 milyar tahun yang lalu. Alhasil, ‘kakek’ matahari pun bakal gugur juga kelak, sekitar 5 milyar tahun lagi. Namun, perginya Matahari nanti nggak bakal menghebohkan alam semesta. Ini karena Matahari diprediksi mati tidak dengan melalui tahapan Supernova.

Apa itu Supernova? Supernova adalah, gampangnya, ledakan mahadahsyat yang menandainya matinya suatu bintang. Bintang yang mengalami supernova adalah bintang-bintang yang sangat massif, > 8 kali Massa matahari.

Supernova


Jadi, jawaban untuk pertanyaan di atas: karena massanya terlalu kecil.

Lalu, bagaimana proses terjadinya supernova?
Bintang-bintang masif hidup dengan cara yang berbeda dibandingkan Matahari. Matahari hidup dengan cara membakar hidrogen (fusi hidrogen) menjadi helium. Bintang-bintang masif nggak hanya membakar hidrogen saja. Struktur internal bintang-bintang gede mirip bawang; lapisan terluar adalah lapisan pembakaran hidrogen yang membakar hidrogen menjadi helium, lapisan di dalamnya merupakan pembakaran helium yang membakar helium menjadi karbon. Berikutnya adalah lapisan pembakaran karbon, pembakaran oksigen, pembakaran neon, dan seterusnya sampai yang terdalam berupa lapisan pembakaran besi.

Tapi pembakaran besi ini nggak sama dengan pembakaran-pembakaran lain. Pembakaran hidrogen ke helium, seperti yang matahari kita lakukan, menghasilkan energi. Pembakaran besi justru menyerap energi. Ketika pada suatu hari bintang gede mulai melaksanakan pembakaran besi, temperatur bintang mendadak drop! Iya, karena energinya diserap untuk membakar besi di inti tadi. Ketika suhu turun drastis, tekanan pun turun drastis... inti bintang pun kolaps. Runtuhnya inti bintang membuat densitas naik mendadak sehingga tiba-tiba temperatur mencapai 10 MILYAR kelvin!
Ingat, suhu inti matahari tuh 15 juta kelvin doang... brrrrr.... subhanallah...
Ketika mencapai temperatur superhot ini, semua elemen di inti –karbon, oksigen, silikon, semuanya— tercerai-berai menjadi proton, neutron, elektron, dan cahaya lagi. Jadi, proses pembentukan elemen-elemen ini, yang untuk membuatnya membutuhkan waktu milyaran tahun, akan hancur lebur kurang dari 1 detik!

Proses ini pun membutuhkan energi, sehingga inti pun runtuh lebih dalam lagi, sampai densitasnya sangat-amat rapat. Ketika densitas mencapai titik maksimum, segala yang tersisa itu tiba-tiba MELEDAK keluar seperti kembang api. Itulah supernova!
                                                                                                            

Read more...

KebumianTO #4

>> Minggu, 26 Desember 2010

Hari ini Hari KebumianTryout #4!


check ur inbox, feel the battle, geosciensters! :)

Read more...

Insight to TO 3

>> Kamis, 16 Desember 2010


Tryout ketiga, November 2010 ini, memang dibikin beda. Kalau biasanya soal yang KebumianZone keluarin itu hasil bikinan sendiri, kali ini soal tryoutnya murni copas dari soal-soal tahun lalu. Nyadar nggak? Hehehe. Ini biar geosciensters nggak ngeremehin soal-soal yang dulu sudah pernah keluar, baik di OSK, OSP, maupun OSN. Udah jadi kebiasaan OSN Kebumian, kalau setiap tahun, soal-soal lama selalu dikeluarkan lagi. Makanya, penting bagi kamu untuk buka-buka lagi soal-soal tahun lalu!

Tapiiiiiiiiii meskipun soalnya copas, bukan berarti jawabannya boleh copas! Wah parah banget nih, terutama soal esai nomer 3 yang menanyakan tentang pembentukan atol. KebumianZone menemukan beberapa peserta yang jawabannya sama persis, kayak gini:

pembentukan Atol berawal dari karang tepi yang seringkali terdapat di sekeliling pulau vulkanis. ketika permukaan dasar laut turun, pulau tenggelam secara perlahan, tetapi terumbu karang tetap tumbuh keatas. Atol merupakan tahap akhir dari terumbu yang terbentuk ketika daratan tenggelam ke dasar laut, menyisakan cincin karang.

Atau kata-katanya mirip seperti itu.

Aduh, please deh! bukan apa-apa, tapi kamu harus sadar, waktu OSK, OSP, maupun OSN nanti, kamu nggak bisa curang! Sekali ketahuan nyontek, panitia langsung “membuang” lembar jawabanmu. Jadi, hilangkanlah kebiasaan buruk itu mulai sekarang, sebelum itu jadi bumerang nantinya!

Lagipula, tujuan KebumianTryout diadakan kan buat melatih geosciensters lebih siap menghadapi OSN nanti. Makanya ada bagian essay, dimaksudkan biar kamu sejak dini mulai berlatih “merangkai “ kata-kata yang efektif, sehingga waktu OSN nanti nggak gelagapan. Lah kalau copas, di mana manfaatnya?

So, yang jawaban pada nomer 3 (dan juga 4) ketahuan copas, nilai untuk nomer itu  nol.

Mudah-mudahan untuk TO-TO berikutnya, kita semua bisa mengerjakan dengan jujur, sehingga manfaat KebumianTryout akan benar-benar terasa ketika OSN nanti.

Oke? :)

Kamu pasti bisa!

P.S: ohya, ada beberapa lembar jawaban yang bagian identitasnya tidak diisi... sehingga korektor nggak tahu itu lembar jawaban punya siapa.. terpaksa dianggap tidak ikut TO. Lain kali jangan lupa mengisi, ya!

Read more...

Kerak, Lempeng, atau Litosfer? The Very Basic of Geoscience! – PART I

>> Selasa, 30 November 2010

Guru SMP: “Bumi terdiri atas apa anak-anak???”
Murid SMP: “atmosfer, hidrosfer, geosfer ama biosfer Buuu...”
Guru SMP: “baguuus.... kalau geosfer bagian-bagiannya apa aja anak-anak??”
Apa jawabanmu, geosciensters?

Inilah salah satu pertanyaan paling mendasar di bidang kebumian: 
bumi padat/solid earth terdiri atas lapisan apa saja?

KebumianZone yakin deh, semua orang yang buka kebumianzone.co.nr ini pernah lihat, minimal sekali dalam hidupnya, diagram yang menujukkan isi perut bumi kalau misalnya Bumi bisa dipotong laiknya telor asin. Seperti ini.

Dan emang sih bentuknya kayak telor asin, makin ke dalem makin menguning! (belum waktunya makan siang loh, geosciensters... hehehe)

Dilihat dari diagram di atas, lapisan-lapisan dalam Bumi mulai dari permukaan (yang sekarang kita injak) sampai ke inti Bumi adalah:kerak, mantel, inti luar, dan inti dalam. Hmm... itukah jawaban atas pertanyaan Bu Guru SMP?

Guru SMP: “... kalau geosfer bagian-bagiannya apa aja anak-anak??”


Sebagai murid SMP, jawaban seperti itu bisa dimaklumi. Tapi sebagai anak olim kebumian yang bersiap-siap bertarung di ajang International Earth Science Olympiad, jawaban itu nggak bisa diterima!

Huwaaaa ... terus gimana dong, KebumianZone?

Tenang, nggak usah panik. Sebenarnya, memang benar kerak, mantel, dan inti luar dan inti dalammerupakan lapisan-lapisan geosfer, tetapi jika ditinjau dari komposisi kimianya. Jika ditinjau dari sifat fisiknya, Bumi terdiri atas litosfer, astenosfer, mesosfer, inti luar, dan inti dalam.

Dilihat dari sifat fisik lapisannya, bumi terdiri atas:
a.      Litosfer: sifat padat tetapi rapuh (relatif gampang patah, kayak kayu), ketebalan 100-150 km. Litosfer sama dengan lempeng.
b.      Astenosfer: sifat padat tetapi liat (fleksibel, seperti tembaga). Inilah sumber magma.
c.      Mesosfer: sifat padat seperti litosfer, pada kedalaman 300-2900 km.
d.      Inti luar: sifat cair (beda dengan astenosfer!!!), Temperatur 4000-5000°C, pada kedalaman 2900-5200 km
e.      Inti dalam: sifat padat. Temperatur 5000-6000°C. Pada kedalaman 5200 km-6371 km.

Dilihat dari segi komposisi kimianya, bumi terdiri atas:
a.      Kerak: komposisi kimia kaya silikat
b.     Mantel: komposisi kimia miskin silikat, sangat dominan Fe dan Mg dibandingkan kerak
c.      Inti: dominan Fe dan Ni (beberapa ahli membaginya menjadi inti dalam dan inti luar, karena inti dalam memiliki kandungan Fe yang sedikit lebih banyak)

Coba lihat; inilah kedua cara membagi isi dalam bumi



Jadi apa itu litosfer? Litosfer adalah bagian terluar kulit bumi yang sifatnya padat, terdiri atas kerak yang sifatnya padat dan mantel bagian atas yang juga padat.
Apa itu astenosfer? Mantel bagian tengah yang sifatnya plastis, terletak di bawah litosfer.
Apa itu mesosfer? mantel bagian bawah yang sifatnya padat, terletak di bawah astenosfer.
Apa itu inti luar? Inti bumi bagian luar yang sifatnya cair.
Apa itu inti dalam? Inti bumi bagian dalam yang sifatnya padat.

Jadi, kedua klasifikasi ini saling bertumpukan; bagian yang sedang kita injak ini bisa disebut kerak ataupun litosfer (lempeng), tergantung berdasarkan apa: sifat fisik atau komposisi kimia.

Sekarang, inilah jebakan besar yang kamu harus super hati-hati: kerak benua dan kerak samudera vs. Lempeng benua, lempeng samudera, dan lempeng benua-samudera.

Mau tahu? Nantikan “Kerak, Lempeng, atau Litosfer? Mantel, Astenosfer, atau Mesosfer?  The Very Basic of Geoscience!—PART II” :)

Read more...

Konsep Penanggalan Relatif dan Absolut – Part I

>> Kamis, 25 November 2010

Kak,,,, mhon Posting tntang Radioaktivitas,,,, mlai dr dsar kl bs,,,, Maklum Ank IPS,,,,,, ava_geoscientistkediri 
Geologi selalu bersinggungan dengan waktu. Setiap kali kita berhadapan dengan suatu tubuh batuan, penting banget bagi kita untuk menjawab: batuan ini kapan terbentuknya ya?

Nah, untuk menjawabnya, geologi ngasih kita dua senjata ampuh: penanggalan relatif dan penanggalan absolut. Penanggalan relatif menjawab antara batuan A dan batuan B lebih tua yang mana. Cara tahunya? Kita bisa menerapkan hukum-hukum geologi: seperti Superposisi, Cross-cutting relationship, hukum inklusi, dsb.

Kamu udah pernah baca tentang hukum-hukum di atas? Kalau sudah, silakan lanjutkan membaca artikel ini. Kalau belum, baca dulu posting: hukum-hukum geologi. Penting buat minimal sekedar tahu, karena kalau nggak ada basic tentang hukum-hukum geologi sama sekali, kamu akan kesulitan memahami artikel ini..

Oke, semua udah baca tentang hukum-hukum geologi? Baguuus... mari kita lanjutkan! :)

Untuk melatih pemahaman kita soal penanggalan relatif, mari kita kerjakan soal KebumianTryout#2, Oktober 2010 ini.

6. perhatikan gambar berikut. Manakah yang benar?
a. granit terbentuk bersamaan dengan batupasir
b. granit terbentuk sebelum batupasir
c. granit terbentuk setelah batupasir
d. granit berada di atas batupasir
e. umur granit dan batupasir tidak bisa ditentukan

Kita lihat pada gambar, ada pecahan-pecahan batu warna coklat (yaitu pecahan batupasir) masuk ke dalam batuan yang berwarna merah (granit). Dengan begini udah jelas dong, kita harus memakai hukum inklusi yang berbunyi:

Jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan.”

Maksud hukum di atas, kalau ada pecahan batuan A yang ‘nebeng’ di dalam batuan B, pertama-tama pecahan batuan A harus ada terlebih dahulu, barulah terbentuk batuan B yang menimbun pecahan batuan A. Untuk kasus no.6, memang begitulah jawaban yang logis: harus ada batupasir dulu, barulah batupasir itu diterobos granit, dan beberapa fragmen batu pasir ngikut di dalam granit. Nggak mungkin dong granit makblek terbentuk duluan, lalu tiba-tiba pecahan batupasir masuk-masuk ke dalamnya. Gimana caranya fragmen-fragmen yang kecil itu menembus tubuh granit yang keras kompak?? Nggak logis! Makanya, jawaban untuk no.6 adalah C.

Jelas ya? Ilmu kebumian itu soal logika :)

Nah, berdasarkan penanggalan relatif, ternyata oh ternyata batu granit ternyata lebih muda dari batupasir. Sekarang, berapa tahunkah tepatnya perbedaan umur antara batugranit dan batupasir? 100 tahun? 1000 tahun? 10 juta tahun? Di sinilah metode penanggalan relatif harus undur diri, menyerahkan tongkat estafetnya ke metode penanggalan absolut. Dengan penanggalan absolut, kita bisa tahu tanggal ulang tahun suatu batuan secara precise. Hmm... kalau mau tahu tanggal ulang tahun seorang temen, kan kita tinggal nanya: “eh, ulang tahunmu kapan?” atau ngintip di info Facebooknya. Lah kalo batuan??  Nanya ke rumput yang bergoyang mah ada lagunya, tapi kalau nanya ke batuan?? Dan emangnya batuan punya Facebook??

Hmmm gimana yaaaa caranya? Tunggu posting: Konsep Penanggalan Relatif dan Absolut – Part II, berikutnya.

Buat geosciensters yang penasaran mampus, inilah petunjuknya: kita minta bantuan NUKLIR. Hayo tebak apa? hehehehe

Read more...

Menyibak Misteri Dasar Laut: Passive Margin

>> Selasa, 16 November 2010


Assalamu'alaikum, kebumianzone yang baik hati, aku mau request mengenai penjelasan daerah shelf break dkk. terima kasih Aku tunggu jawabannya—tubifora

 Perhatikan gambar berikut.  

4. Daerah shelf break ditunjukkan oleh huruf ...  
a.  A                b.  B                c.  C                 d.  D                e.  E 

5.  Daerah dimana terjadi aktivitas vulkanik ditunjukkan oleh huruf... 
a.  A                b.  B                c.  C                 d.  D                e.  E 

Kedua soal diatas merupakan soal KebumianTryout #1, September 2010. Woot, apatuh KebumianTryout? Yap, tiap bulan, kami mengadakan TO Kebumian online berskala nasional loh..  khusus untuk membantu kamu mempersiapkan diri buat OSN Manado 2011. GRATIS!! Jadi, kalau kamu siswa SMA kelas X atau XI, yuk buruan daftar! Caranya? Klik: kebumiantryout

Okay, kita kembali ke soal no 4 dan 5. Tentunya kamu sudah bisa menebak, dari bentuk yang dilukiskan oleh gambar di atas, dari label-labelnya (continental margin, ocean basin, abyssal plain) bahwa gambar diatas merupakan penampang dasar samudera. Kalau kamu suatu hari berkesempatan numpang di kapal selam bertenaga nuklir punya Amrik dan dibawa jalan-jalan menikmati indahnya dasar Sam. Pasifik, yaaa... kira-kira gitu deh bentuknya dasar laut.

Dalamnya laut bisa ditebak, dalamnya hati siapa yang tahu? Hehehehe

Apakah semua samudera di Bumi ini punya profil persis seperti itu? Sebenarnya.. nggak juga. Tiap samudera punya karakter khas masing-masing.

Salah satu karakter yang membedakan adalah jenis tepian samuderanya, atau marginnya. Secara umum, terdapat dua jenis tepian samudera: passive margin dan active margin. Suatu samudera tepinya disebut pasif kalau pada tepiannya tidak dijumpai batas lempeng atau aktivitas tektonik. Sebaliknya, suatu samudera tepinya disebut aktif kalau pada tepiannya terdapat aktivitas tektonik yang intens—dengan kata lain, tepian samudera ber-active margin juga merupakan batas lempeng.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan peta lempeng tektonik berikut.
  
Samudera Atlantik merupakan salah satu contoh samudera ber-passive margin.  Perhatikan, tepi Samudera Atlantik kan berbatasan dengan Benua Afrika dan Amerika Selatan.. tetapi tepi itu bukan merupakan batas lempeng! Lempeng Afrika dan Lempeng Amerika Selatan justru bertemu di tengah-tengah Samudera Atlantik, sehingga tepi samuderanya nggak aktif.

Lain halnya dengan samudera Pasifik; bisa kamu lihat, tepi-tepi Samudera Pasifik dipenuhi garis-garis hitam yang menandakan pertemuan lempeng! Dengan kata lain, banyak banget aktivitas tektonik di tepian samudera Pasifik... sehingga kita pun menamainya active margin.

Jelas, ‘kan, geosciensters? :D

Nah, pada artikel kali ini, KebumianZone akan membahas soal profil dasar samudera tipe passive margin.



Dasar samudera tipe passive margin terbagi atas dua bagian : continental margin (tepi benua) dan ocean basin (cekungan samudera). Continental margin adalah bagian samudera yang berdekatan dengan daratan (benua) dan masih mendapat pengaruh daratan, misalnya masih menampung endapan aluvial dari sungai. Bagian-bagian dari continental margin sendiri antara lain:

a.       Continental shelf: continental shelf yang landai ini sebenarnya masih bagian dari benua. Bahkan, pada zaman es, bagian ini kering loh! (Pada waktu zaman es kan air laut surut). Sedimen yang menutupi continental shelf  berasal dari benua, namun sedimen tersebut  70% berasal dari endapan sungai waktu zaman es dulu; sungai yang sekarang bermuara di sana dan mengendapkan material cuma berkontribusi sedikit.

b.      Shelf break: batas berakhirnya shelf dan dimulainya continental slope. Uniknya, di samudera manapun di dunia, batas shelf break selalu berada di sekitar 140 m di bawah permukaan laut! Wah, wah... kompak banget sih! Kemungkinan besar, ini merupakan sisa-sisa zaman es dulu, dimana level air laut lebih rendah dari sekarang dengan tepian berada di shelf break.

c.       Continental slope: sesuai namanya, karakter khas continental slope adalah slopenya alias kemiringannya yang curam abis! Kebanyakan continental slope ‘dihiasi’ lembah-lembah gelap nan curam hasil dari pahatan arus turbid. Mau tau lebih lanjut? Baca artikel satu ini.

d.      Continental rise: setelah kita asyik maen perosotan menuruni continental slope nan curam, kita bertemu lagi dengan bagian tepi benua yang landai yaitu continental rise.  Kemiringannya bervariasi antara 0,5 sampai 1°, melampar hingga 500 km dari slope.

Sedangkan bagian dari cekungan samudera alias ocean basin:
a.      Abyssal plain: dataran di tengah samudera yang dalam dan luas.

b.      Mid Oceanic Ridge: pada mid oceanic ridge, terdapat dua buah lempeng samudera yang saling menjauh. Akibatnya, magma dari dalam Bumi keluar di pertengahannya, lalu membeku, dan membentuk tebing-tebing tinggi yang memanjang mengikuti batas lempeng. Hm... tebing tinggi yang memanjang... Mirip punggung ya? Makanya, fitur ini disebut punggungan tengah samudera alias mid oceanic ridge.

Begitulah :D 

Read more...

22 Siswa Memastikan Diri Lolos ke Pelatnas 2 IESO 2011

>> Senin, 15 November 2010

Hari Sabtu kemarin adalah hari yang mendebarkan bagi ke-28 pejuang kebumian kita yang sedang mengikuti Pelatnas (Pelatihan Nasional) Tahap I Olimpiade Kebumian di Yogyakarta. Yup, setelah pada Jum’at kemarin mereka menjalani tes Komprehensif yang bikin otak ‘kembang-kempis’, esoknya Pak Hendra selaku ketua tim IESO Indonesia langsung mengumumkan siapa yang lolos ke babak selanjutnya. Waaaah, siapa ya?? Tapi sebelum KebumianZone bongkar total nama-nama 22 siswa yang beruntung tadi, yuk kita lihat kegiatan apa aja sih yang pejuang-pejuang kebumian jalani selama sebulan penuh ‘bermeditasi’ di Hotel Cakrakembang, Yogyakarta. 

peserta Pelatnas I IESO 2011 menamakan diri sebagai 'GEOTHITE'

Sebagai persiapan menuju IESO 2011 di Italy (+.+), Bapak Dr. D. Hendra Amijaya, “Bapak” Tim IESO Indonesia dan juga merupakan dosen di Jurusan Teknik Geologi UGM, mentitahkan 30 siswa-siswa yang berhasil menggondol medali emas, perak, perunggu plus 3 siswa tanpa medali namun dengan nilai cukup tinggi untuk menjalani Pelatnas Tahap I. Namun, dari 33 siswa yang dipanggil, sebanyak 5 orang mengundurkan diri, kebanyakan karena memilih untuk fokus ke Ujian Nasional. Hingga akhirnya sebanyak 28 siswa lah yang menapakkan kaki ke tahap I seleksi road to Italy ini! 

Seperti biasanya, Tahap I Kebumian bertempat di luar negeri, yaitu Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat (hehehe). Seperti biasa pula, pelatnas berlangsung selama kurang lebih satu bulan di bawah naungan Teknik Geologi UGM. Tentu saja materi bahasan dalam pelatnas I ini nggak jauh-jauh dari geologi, antara lain:
1.       konsep dasar kebumian
2.      Kristalografi dan mineralogi
3.      Petrologi: Batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf
4.      Peta topografi
5.      Geologi struktur
6.      Geomorfologi
Namun, yang nggak seperti biasanya, dan juga yang bikin kakak-kakak alumni ‘geregetan’, adalah: pelatnas I kali ini bertempat di hotel! Tepatnya di Hotel Cakrakembang,  dengan fasilitas kolam renang dan dekat pusat kota!!! T.T

aih senangnya... kita dulu mah nginap di wisma P4TK Seni dan Budaya, terletak di Jalan Kaliurang km 12 (di atas banget). Tapi pelatnas kita seru juga kok, dengan udara dingin khas pegunungan dan pemandangan yang indah :PPP (ga mau kalah)

di hotel Cakrakembang ini, nggak cuma anak-anak Kebumian aja yang mendadak jadi tamu setia; di tempat yang sama juga diadakan Pelatnas I Olimpiade Matematika.

Terus, belajarnya anak pelatnas gimana sih, KebumianZone? Jadi, terdapat 4 jenis proses belajar selama pelatnas ini:
1.      Kuliah: belajar di kelas bersama dosen-dosen dari Teknik Geologi UGM
2.      Praktek Lab: menjadi ‘mahasiswa dadakan’, belajar di lab-lab yang terdapat di Teknik Geologi UGM
3.      Field Trip: jalan-jalan ke gunung, pantai, dsb. untuk melihat langsung geologi di alam
4.      Mentoring: belajar dengan suasana informal ditemani kakak-kakak Asisten IESO di ruang kelas. Sifatnya nggak wajib (kalau lagi pengen belajar di kamar masing-masing juga boleh), biasanya berlangsung pada malam hari.

Tuh, ‘kan? Meskipun bolos sekolah sebulan, nggak berarti anak-anak olim enak-enakan! Malah pelajarannya jauh lebih ‘parah’ dari pelajaran-pelajaran di sekolah.. normalnya materi-materi ini sebenarnya baru diberikan untuk para mahasiswa Teknik Geologi! @_@ Apalagi nggak hanya belajar saja, anak-anak pelatnas juga harus mengerjakan TES secara berkala dan setiap tes akan diranking. Ranking itulah yang menjadi dasar penentuan siapa yang berhak menjadi sang pelatnas-er tahap II.

Siapa aja? Nggak pake lama, ini dia:

1.     1. Syera Afita Ratna (SMAN 1 Banjarnegara)
2.      2. Ferralda Thalita Amir (SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta)
3.      3. Muhammad Reza Ardian (SMAN 1 Depok)
4.      4. Imam Fajri Wiyono (MAN Insan Cendikia Serpong)
5.      5. Farizky Hisyam (SMAN 3 Malang) :)
6.      6. Irvan Febrianto (SMAN 48 Jakarta)
7.      7. Sukianto Kurniawan (SMAN 8 Pekanbaru)
8.      8. Ichwan Sangiaji (SMAN 34 Jakarta)
9.      9. Anarita Widya (SMAN 8 Yogyakarta)
10.   10. Ajang Rukmayana (SMAN 1 Cisarua)
11.   11. Fenini
12.   12. Putri Rafika Dewi (SMAN 1 Pati)
13.   13. Iqlima Luthfita Sari (SMAN 3 Malang) :)
14.   14. Thomas Teguh Wijaya (SMAK Petra 2 Surabaya)
15.   15. Safrul Setiawan (MAN Insan Cendikia Gorontalo)
16.   16. Yuda
17.   17. Maghfira Abida (SMAN 1 Magelang)
18.   18. Bintang Rahmat Winanda (SMAN 8 Jakarta)
19.   19.Muhammad Chandra (SMAN 48 Jakarta)
20.   20. Andrean Eka Lucianto (Taruna Nusantara Magelang)
21.   21. Muhammad Luthfi (SMAN 1 Cianjur
22.   22. Ferdinand M. Sinatupang (SMAN 99 Jakarta)

Yap!
semoga sukses untuk Tahap 2 yang akan dilaksanakan sekitar 2 bulan lagi di kota kembang, Bandung, dengan materi meteorologi dan/atau astronomi!

Haaah? Pelatnas 2 kok materinya langsung meteo astro?? Iya nih, persiapan IESO 2011 ini emang agak beda.. kalau biasanya pelatnas 2 masih seputar geologi, sekarang mereka langsung banting setir ke meteo dan astro...

Waah asik banget sih pelatnas I !!! tentunya kamu juga pengen baaaaaanget dong berhasil meraih medali di OSN 2011 Manado lalu bergabung dengan Tim INA ke Jepang untuk bertarung di IESO 2012? Makanya, persiapkan dirimu sedini mungkin, salah satunya dengan mengikuti KebumianTryout, Tryout Kebumian Online berskala nasional pertama di Indonesia! GRATIS! More info, hit: KebumianTryout
See you there! :) 

Read more...

Tentang TOIKI.or.id

TOIKI.or.id merupakan situs resmi dari Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang menyediakan berita terbaru seputar Olimpiade Kebumian, materi-materi belajar Kebumian dalam KebumianZone, dan toko resmi buku-buku dan peralatan penunjang pelatihan Olimpiade Kebumian.

Kontak TOIKI

Pembina
Dr. D. Hendra Amijaya, ST, MT
d/a Teknik Geologi UGM
Jl. Grafika 2 Yogyakarta 55281

lebih lanjut >>


  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com, improved bySaushine2011

Back to TOP