`

Membedakan Awan metode GPL (Ga Pake Lama)

>> Senin, 05 April 2010

“Ini awan apa yaaa….?”
Pertanyaan itu berulang-ulang membombardir otak para peserta OSN Kebumian 2009 di Jakarta lalu saat mengikuti tes praktek di BMKG Dramaga.

Termasuk saya... hahahaha T.T

Photobucket

Ya—untuk pertama kalinya dalam sejarah OSN Kebumian, cabang meteorologi diujikan pada tes praktek! Jika biasanya para peserta OSN mati-matian berlatih mengidentifikasi batuan, fosil, struktur geologi, dan morfologi, sekarang daftar pun bertambah dengan memahami simbol meteorologi, alat-alat meteorologi, juga identifikasi awan.

Untuk yang terakhir, identifikasi awan ini memang gampang-gampang susah. Pasalnya, kalau merujuk ke textbook, awan itu sebenarnya cukup mudah dibedakan. Kalau kayak kapas namanya cumulus, kalo kapas item gede namanya cumulonimbus, seperti tabir berarti stratus, dari Kristal es berarti bangsa cirrus.

Nah, masalah datang waktu kita harus pergi keluar dan mengamati awan dengan mata telanjang. Wah.. bentuknya macam-macam, tidak karu-karuan. Belum lagi, kita tidak tahu awan itu ada di ketinggian berapa. Susah jadinya mau membedakan stratus dan altostratus, misalnya.

*senyum-senyum* sebenarnya… nggak juga sih! :D
Kebumianzone punya trik khusus yang akan membantumu saat pengamatan awan.
Ini dia!

++STEP BY STEP HOW TO EASILY DISTINGUISH CLOUD TYPES++
1. pandanglah langit.

2. Fokuskan pandanganmu pada salah satu awan.

3. Langkah paling pertama: tentukan jenisnya antara stratiform atau cumuliform atau awan lain.

Angkat tanganmu, lalu cobalah menggambarkan garis pembatas antara awan dan langit biru. Kalau kamu bisa melakukannya dengan mudah, berarti itu awan cumuliform. Apalagi kalau awan itu bentuknya mirip gumpalan kapas, jelas cumuliform dah. Kalau awan itu batasnya tidak jelas, dan bentuknya membentang luas, berarti itu awan stratiform.

Awan lain:
Jika kamu bisa mendengar suara petir plus awan itu sangat gelap (hampir hitam) sampai-sampai kamu tidak bisa melihat langit biru di balik awan sedikitpun, berhenti di sini. Sudah pasti itu Cumulonimbus (petir cuma terbentuk di Cb).
Photobucket

Awan dengan bentuk seperti serat-serat kembang gula bisa langsung diidentifikasi sebagai Cirrus.
Photobucket

Kalau itu cumuliform, lalu cumulus apa?

Cumulus:
Photobucket
Siapa yang tidak kenal awan cumulus? Kapas putih sendirian melayang di langit (sering kali ukurannya lumayan besar) sudah bisa memastikan kalau itu awan cumulus. Kumulus juga sering muncul berkelompok. Namun, berbeda dengan stratocumulus, awan cumulus terpisah cukup jauh dengan awan lain sehingga kamu bisa melihat cukup banyak langit biru diantaranya.

Altocumulus:
Photobucket
awan altocumulus sering muncul sebagai kumpulan awan-awan berbentuk cumulus. Kamu masih bisa melihat langit biru dengan jelas di sela-sela grup awan tersebut. Ukuran per individualnya kira-kira sebesar ibu jari.

Stratocumulus:
Photobucket
awan stratocumulus mirip dengan altocumulus kecuali ukuran individunya yang jauh lebih besar, kira-kira sebesar kepalan tangan.

Cirrocumulus:
Photobucket
Langit seperti cirrocumulus sering dijuluki “mackerel sky” sebab mirip dengan sisik-sisik ikan mackerel. Sama seperti altocumulus, Cirrocumulus terdiri atas barisan awan-awan Cumulus. Kadang-kadang, Cirrocumulus muncul sendirian atau dalam baris. Beda dengan stratocumulus? ukuran per individunya kecil sekali.

Kalau itu stratiform, lalu stratus apa?

Cirrostratus:
Photobucket
awan cirrostratus terkenal sebagai awan yang menampilkan halo (lingkaran cahaya) nan indah disekitar matahari dan bulan. Ini sekaligus ciri utama awan cirrostratus. Satu lagi, awan cirrostratus cukup transparan sehingga benda-benda di permukaan bumi masih punya bayangan. Warnanya pun membuat langit lebih putih seperti berkilau (glary).

Altostratus:
Photobucket
Awan altostratus menyebabkan matahari atau bulan dibaliknya seperti “tenggelam” dalam air atau biasa disebut “watery sun” atau “watery moon”. Tetapi, tidak ada halo yang terbentuk. Warnanya menyebabkan langit jadi agak kelabu, tapi tidak pernah putih. Sebagai pembeda yang baik dengan cirrostratus, benda-benda tidak memiliki bayangan saat altostratus muncul.

Nimbostratus:
Photobucket
“nimbo” berarti hujan, jadi karakter utama nimbostratus adalah hujan ringan sampai moderate yang turun dari awan ini (faktanya, kalau awan ini tidak menghasilkan hujan, berarti bukan nimbostratus). Awan nimbostratus lebih kelabu dari altostratus. Juga, matahari dan bulan tidak terlihat sama sekali. Biasanya awan ini ditemani oleh awan stratus fractus yang tampak seperti robekan kertas.

Stratus
Photobucket
Seperti nimbostratus, awan stratus juga abu-abu tua dan tidak melewatkan matahari serta bulan. Bedanya, hujan jarang turun dari awan stratus, kecuali gerimis ringan (di nimbostratus hujannya lebih lebat tapi tidak selebat Cumulonimbus). Dasar awan stratus lebih seragam daripada nimbostratus.

gampang, kan? :)

Sumber: Ahrens, Meteorology Today.

2 komentar:

Rizki Fatmala,  22 Mei 2010 14.55  

wah keren bgt postingannya disini..
pengetahuan semua

Anonim,  6 Juni 2014 09.19  

mantaaaappp

Posting Komentar

Tentang TOIKI.or.id

TOIKI.or.id merupakan situs resmi dari Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang menyediakan berita terbaru seputar Olimpiade Kebumian, materi-materi belajar Kebumian dalam KebumianZone, dan toko resmi buku-buku dan peralatan penunjang pelatihan Olimpiade Kebumian.

Kontak TOIKI

Pembina
Dr. D. Hendra Amijaya, ST, MT
d/a Teknik Geologi UGM
Jl. Grafika 2 Yogyakarta 55281

lebih lanjut >>


  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com, improved bySaushine2011

Back to TOP