Kecepatan Lepas dan Periode Asteroid (Soal OSP 2009)

>> Senin, 31 Mei 2010

Askum kak.. boleh Tanya soal essai OSP 2009 no. 5 ini ga kak?
(Fans kakak :p) via SMS


Soal no.5 OSP 2009 memang bikin pusing banyak anak kebumian, bahkan anak astronomi sekalipun banyak yang angkat tangan (yang masih berjuang di level OSK-OSP tentunya.. kalau anak astro yang udah dapet medali paling bisa ngerjain sekedipan mata ! ). Inilah bunyinya:

Sebuah asteroid ketika berada di perihelium menerima fluks dari matahari sebesar F0 ketika di aphelium ia menerima sebesar 0,5 F0. Orbit asteroid mempunyai setengah sumbu pendek b=1,3 SA.
a) Berapakah perode asteroid ini?
b) Ketika di aphelium berapakah kecepatan lepas asteroid ini?

Untuk mengerjakan soal ini, kita perlu meminta bantuan Pak Copernicus dan Pak Newton untuk rumus-rumus ellips dan gravitasi.

Rumus-rumus ellips yang berguna antara lain:

R aphelium = a(1-e)
R perihelium = a(1+e)

e= [1-b^2/a^2)]^(-2)

rumus kecepatan lepas:
Photobucket
Dengan:
e = eksentrisitas elips
b = setengah sumbu pendek
c = setengah sumbu panjang
d = jarak

dan hukum Keppler III
Photobucket


sedangkan rumus fluks matahari
Photobucket

Dengan kata lain, fluks yang diterima berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.
Tidak usah berpanjang-panjang lagi deh, inilah cara mengerjakan poin a)
Photobucket
Photobucket
Photobucket
setelah tahu berapa eksentrisitasnya...
Photobucket

menggunakan hukum Keppler III, kita dapatkan bahwa P=1,53 tahun

untuk escape velocity...
Photobucket
Voila! Itulah jawabannya, saudara-saudara!

Read more...

Berapa Lapis? Ratusan !

>> Sabtu, 22 Mei 2010

kak, aku mau rikuwes tentang stratigrafi dan batu2 yang biyasanya dighunakan untuuk iitu.. boleeh yah kak? terimakasih banyaaak :) –pecintaalay


Photobucket
Batuan sedimen, yang menyelimuti 75% permukaan bumi, punya satu ciri khusus yang bikin dia beda dari batu-batu lain: perlapisan. Studi geologi ke lapangan alias field trip sering bikin kita kelaparan.. habis lapisan-lapisan batuan sedimen yang ditemui, wah, banyaak sekali dan bermacam-macam, mirip jajan lapis legit! Cabang ilmu geologi yang khusus mempelajari perlapisan batuan adalah stratigrafi. Pada tahun 1669, dengan brilian Pak Steno merumuskan Laws of Stratigraphy, hukum-hukum interpretasi lapisan batuan yang masih digunakan hingga detik ini. Ahli-ahli lain pun ikut menyempurnakan dan menambahi hukum-hukum stratigrafi sampai akhirnya menjadi rumusan yang lengkap. Apa saja sih hukum-hukumnya?

1. Hukum Superposisi (Law of Superposition)
Sebelum terkena gaya/perubahan, lapisan batuan yang di bawah lebih tua daripada lapisan yang di atas.

2. Hukum Horizontalitas Original (Law of Original Horizontality)
Sebelum terkena gaya/perubahan, sedimen terendapkan secara horizontal.

3. Hukum Kontinuitas Lateral (Law of Lateral Continuity)
Batuan sedimen melampar dalam area yang luas di permukaan bumi.

4. Hukum Hubungan Perpotongan (Cross Cutting Relationship)
Jika ada intrusi batuan beku atau sesar atau kekar memotong suatu perlapisan batuan, maka intrusi/sesar/kekar tersebut ada setelah lapisan batuan terbentuk.

5. Hukum Suksesi Fauna (Faunal Succession)
Fosil satu menggantikan fosil lain secara vertikal dalam urutan yang spesifik dan tepat, yang teramati
dalam area geografis yang luas.

6. Hukum Inklusi (Law of Inclusion)
Jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan.

Tujuan utama semua hukum stratigrafi ini adalah penentuan umur relatif, yaitu untuk memperkirakan batuan mana yang terbentuk duluan dan batuan mana yang terbentuk terakhir. Kapan tepatnya batuan itu terbentuk? Inilah penentuan umur absolut. Ini bisa diketahui melalui metode penanggalan radiometri yang mengukur kadar radioaktif batuan sehingga dari situlah ditentukan “ulang tahun batuan” secara tepat.

Read more...

Awan-awan Khusus nan Indah

>> Jumat, 21 Mei 2010

nama saya burhan.. saya nak osp dah 2 tahun,

minta tolong kasih tau dong jawaban tentang soal osp 2009 yang esai tentang "siklus hidup awan kumulus" n macam2 jenis awan kumulus ( ex: fibratus, fracture, dsb ) thanx ya...


Jika suatu awan punya ciri-ciri khusus, kita bisa menambah “akhiran” di belakang nama awan. Contohnya, awan altocumulus yang berbentuk melensa bisa kita namai altocumulus lenticularis (soal OSN 2008). Bentuk-bentuk lain?

Lenticularis (lens, lenticula, lensa)
Awan berbentuk melensa; sering memanjang dengan tepi yang jelas. Valid untuk: cirrocumulus, alto-cumulus, dan stratocumulus.
Photobucket


Fractus (frangere, koyak)
Awan yang tampak terkoyak atau tersobek; valid untuk stratus dan cumulus saja.
Photobucket


Humilis (humilis, kecil)
Awan cumulus dengan dasar yang datar dan sedikit pertumbuhan vertikal.
Photobucket

Congestus (congerere, to bring)
Awan cumulus dengan pertumbuhan vertikal yang cukup hebat sehinggatampak seperti brokoli.
Photobucket


Undulatus (unda, wave; bergelombang)
Awan dalam grup-grup kecil, lembaran, atau lapisan yang tampak bergelombang.
Photobucket


Translucidus (translucere, to shine)
Awan yang menutupi sebagian besar langit dan cukup transparan sehingga posisi matahari atau bulan
ketahuan.
Photobucket


Mammatus (mamma, kelenjar susu)
Awan dengan tonjolan mirip susu sapi di bawahnya; muncul di awan cirrus, altocumulus, altostratus,
stratocumulus, dan cumulonimbus
Photobucket


Pileus (pileus, topi)
Awan yang memiliki bentuk mirip topi yang terpasang di atas bentuk cumuliform awan tersebut, biasanya menandakan tahap pertumbuhan.
Photobucket


Castellanus (castellum, kastil)
Awan yang memperlihatkan pertumbuhan vertikal sehingga mirip menara, sering berbentuk seperti kastil-kastil kecil.
Photobucket


Fibratus (Fibre, serat)
Awan dengan bentuk berserat-serat.
Photobucket

Arcus (Arc, busur)
Bentuk tambahan pada bagian dasar awan yang bentuknya melengkung atau menggulung seperti busur yang sedang direntang, dan tepinya seperti perca tebal dan terdapat pada awan Kumulonimbus atau Kumulus. (copy paste langsung dari soal OSP 2009, hehehehe)
Photobucket

Incus (Inca, landasan)
Awan yang pertumbuhan vertikalnya sangat hebat sampai-sampai mencapai tropopause sehingga bagian atasnya mirip landasan.
Photobucket

Dan masih banyaaak lagi yang lainnya! J

Read more...

Nicolas Steno: Bapak Geologi Dunia

>> Minggu, 16 Mei 2010

Photobucket Nicolas Steno (11 Januari 1638 – 25 November 1686)


Empat prinsip paling basic dalam ilmu geologi—Hukum Superposisi, Hukum Cross-Cutting, Hukum Kontinuitas Lateral, dan Hukum Horizontalitas—semua dirumuskan oleh Pak Nicolas Steno, seorang anatomis dan geologis berkebangsaan Denmark. Karena jasanya yang luarrrrr biasa besar, beliau diberi gelar The Father of Geology alias si Bapak Geologi. Tahu tidak, waktu berumur 21 tahun, Pak Steno bertekad, “Pokoknya saya gak bakal percaya apapun yang tertulis di buku sebelum saya neliti sendiri!!” daaaan… itulah yang membawa beliau menjadi bintang di dua bidang sekaligus, anatomi dan geologi. Inilah kisah lengkapnya.

Masa Kecil Kurang Bahagia?
Pak Steno lahir pada 11 Januari 1638 di Kopenhagen, Denmark. Ayahnya seorang tukang emas (goldsmith) yang bekerja untuk King Christian IV, raja Denmark waktu itu. Sedih sekali, waktu kecil Pak Steno tidak bebas main keluar bersama teman-teman seperti kita-kita ini… pasalnya, waktu itu merebak wabah mematikan yang dalam waktu setahun saja sudah membunuh 240 murid sekolah! Enam tahun kemudian, ayah beliau meninggal dunia.

The Power of Observation
Setelah merampungkan pendidikan universitasnya, Pak Steno memutuskan untuk berkeliling Eropa dan menemui ilmuwan-ilmuwan hebat dari Jerman, Prancis, Italia dan Belanda. Akibat sering bersentuhan dengan dunia ilmiah, Pak Steno terlatih untuk mengasah kemampuan observasinya. Ia lebih mempercayai apa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri—walaupun hasil observasinya sangat bertentangan dengan doktrin tradisional yang (pada waktu itu) penuh mitos dan takhayul.

Menjadi Master Anatomi
Pertama-tama, Pak Steno melanglang ke Rostock, lalu ke kota Amsterdam, di mana beliau menjadi murid Gerard Basius dan meneliti sistem limfe. Pak Steno menemukan struktur baru yang terdapat di kepala kelinci, anjing, dan domba. Struktur itu pun diberi nama “ductus stenonianus". Beberapa bulan kemudian, beliau hijrah ke Leiden dan mempelajari jantung. Bulan-bulan berikutnya, berbagai kota di Eropa disinggahinya sambil menjalin pertemanan dengan tokoh-tokoh terkemuka dan menjadi anggota asosiasi sains ternama sebagai ahli anatomi.

Berkenalan dengan Geologi
Pada Oktober 1666, dua nelayan menangkap hiu betina superbesar di dekat kota Livorno. Kepala hiu itu dikirim ke Pak Steno untuk diteliti (waw, kebayang gak sih dapet kiriman kepala ikan hiu?). Pak Steno menyadari bahwa bentuk gigi hiu itu mirip banget dengan sejenis “batu” aneh yang sering terselip di lapisan-lapisan batuan, yang mana orang-orang menyebutnya sebagai “batu lidah (tongue stones)”
PhotobucketTongue Stones


\Penjelasan yang populer waktu itu salah satunya datang dari Pliny the Elder, yang mengklaim bahwa itu adalah batu yang jatuh dari langit, berasal dari pecahan Bulan. Hmm… Yang lainnya bilang kalau batu itu “tumbuh” secara alami di antara batuan! Ini khas pendekatan Aristoteles. Namun, seorang ahli bernama Fabio Colonna justru menulis bahwa sebenarnya batu itu gigi hiu, namun masalahnya komposisi “batu lidah” jauh berbeda dengan gigi hiu asli. Pak Steno setuju dengan pendapat Pak Fabio dan menambahkan bahwa komposisi gigi hiu bisa berubah tanpa kehilangan bentuknya (yaitu… mineral replacement! )

Dari sinilah Pak Steno mulai penasaran dengan ilmu geologi. Kok bisa sih benda padat ada di dalam benda padat lain (solid bodies within solids) seperti gigi kok bisa ada di tengah-tengah batuan? Minatnya pun berkembang tidak hanya di bidang fosil saja, tapi juga mineral, kristal, urat kristal, sampai perlapisan batuan.

Buku Geologi #1 Dunia !

Photobucket

Akhirnya, pada 1669 terbitlah buku bersejarah Dissertationis prodromus yang menjelaskan empat prinsip yang amat sangat penting dalam stratigrafi dan masih valid sampai sekarang: Hukum Superposisi “pada waktu sebuah strata terbentuk, semua materinya berupa fluida, karenanya ketika sebuah strata sedang terbentuk, tidak ada strata lain yang ada di atasnya”.  Hukum Cross-Cutting “jika sebuah tubuh atau diskontinuitas memotong sebuat stata, [itu] pasti terbentuk setelah strata itu.” Hukum Kontinuitas Lateral “Material yang membentuk strata melampar secara luas di atas permukaan bumi kecuali ada tubuh padat lain yang menghalangi”, dan Hukum Horizontalitas “strata yang tegak lurus dengan horizon atau miring terhadap horizon dulunya parallel dengan horizon.”

Selain itu, juga ditulis Steno landmark’s theory “rekaman fosil (fossil record) merupakan kronologi dari makhluk hidup di zaman-zaman yang berbeda” juga Steno’s law “sudut bidang-bidang Kristal sama untuk semua spesimen dari Kristal yang sama.” Hukum yang terakhir menjadi basis dari studi kristalografi.

Wah… hebat banget, ya, Bapak kita yang satu ini. Nah, apa kamu tertarik menjadi the 21st Century Father of Geology? Or maybe.. the 21st Century Mother of Geology
Hahaha… kita lihat saja!

Read more...

Aku Peta.. Aku Peta… Aku Peta Geologi!

kak, tolong bwt artikel ttg simbol2 pd peta geologi dan cr bacanya dng... (jurus, dll).. :).. mksh –duta 

Peta geologi, makanan apa pula itu?
Jangan salah loh! Pemetaan adalah “jantungnya” ilmu geologi. Ilmu geologi tanpa pemetaan bukan bagaikan sayur tanpa garam lagi, tapi bagaikan sayur yang gak ada sayurannya!

Informasi apa yang diungkap di peta geologi? tentu saja kondisi geologi suatu wilayah, seperti jenis batuan yang ada serta struktur-struktur geologi seperti kekar dan sesar. Biasanya peta geologi juga dilengkapi dengan garis kontur yang membuat pembacanya bisa membayangkan relief wilayah tersebut kira-kira kayak apa.

Peta geologi memang unik! Kalau peta-peta biasa kan hanya memberi info tentang keadaan wilayah jika dilihat dari atas. Dengan peta geologi, kamu juga bisa menggambar apa yang ada di dalam bumi! Hebat kan?!

Ini dimungkinkan sebab peta geologi mengandung informasi strike dan dip batuan.
 Weleh, apa pula strike dan dip itu? 
Gampangnya, strike adalah kecenderungan arah suatu struktur geologi relatif terhadap Utara. Sedangkan dip memberi tahu kita seberapa besar sudut kemiringan batuan relatif terhadap bidang horizontal.. Perhatikan gambar berikut.
Photobucket

Lambang-Lambang di Peta Geologi

Strike dan Dip dilambangkan sebagai berikut:
Photobucket

strike dibaca sesuai arah yang ditunjukkan batang yang panjang, dibaca searah jarum jam.
pada gambar di atas, ada dua kemungkinan strike, yaitu 45o dan 225o. Nah, kita pakai hukum tangan kiri. strike sesuai telunjuk tangan kiri dan dip sesuai ibu jari tangan kiri. 

untuk dip, cukup melihat angka di sebelah batang yang kecil.

lambang diatas dibaca: strike N 45o E, dip 45o Oya, strike selalu berpotongan tegak lurus dengan dip.

Dalam membuat penampang melintang peta, data yang kita perlukan cukup data dip saja. Tentu kamu sudah tahu bagaimana cara membuat penampang melintang, kan? Soal semacam ini pernah keluar di OSP 2008, OSN 2008 dan OSP 2009.

Lambang-lambang lainnya:

Photobucket



Seperti yang bisa kamu lihat, batulempung biasanya dilambangkan dengan garis putus-putus, batu pasir dengan titik titik, batuan beku (granit) dengan tanda +, dan sebagainya.

Read more...

Berpusing-pusing dengan Ekman Spiral

>> Rabu, 12 Mei 2010

Posting ini direquest oleh Nabila. Aku juga mau dong, request!


Efek Coriolis nggak hanya memaksa angin-angin di bumi “main serong”, tapi mempengaruhi arus laut juga! Fenomena ini pertama kali di amati oleh Pak Vagn Walfird Ekman, seorang oseanografer hebat asal Swedia. Karena jasa beliau itulah, pembelokan arus laut oleh gaya Coriolis ini dinamai “efek Ekman”.

Seperti yang kita tahu, ada dua macam arus laut, yaitu arus laut permukaan dan arus laut dalam. Arus laut permukaan ditimbulkan oleh angin, sedangkan arus laut dalam mengalir karena perbedaan densitas air laut. Nah, arus laut permukaan inilah yang mengalami Efek Ekman. Karena efek Ekman, arah pergerakan arus laut tidak sama persis dengan arah angin yang menimbulkannya, tetapi berbelok sebesar 45° ke kanan di BBU dan 45° di BBS relatif terhadap arah angin. Jadi, misalkan ada angin yang menuju Utara bertiup  di atas lautan di BBU, maka arus laut permukaan yang terbentuk bukan menuju Utara, tetapi menuju ke Timur Laut. Paham?

Nah, sekarang kita harus sedikit “berputar-putar” nih, karena kita akan membahas Ekman Spiral.
Bayangkan bahwa laut itu terdiri atas banyak lapisan air. Seperti yang sudah kau mengerti, lapisan air laut teratas, sebut saja lapisan A, berbelok sebesar 45° dari angin yang menimbulkannya. Nah, di bawah lapisan A terdapat lapisan B yang juga bergerak dengan pembelokan sebesar 45° dari lapisan A. Di bawah lapisan B terdapat lapisan C yang lagi-lagi menyerong sebesar 45° dari lapisan B dan teruuuuus begitu sampai-sampai membentuk spiral!
Photobucket


Makin dalam, Efek Ekman makin berkurang dan arus permukaan juga makin lemah. Ini direpresentasikan dengan panjang dan arah panah pada gambar di atas (panah itu menunjukkan vektor gerakan air laut). Jadi, setelah dihitung-hitung pakai ilmu vektor, ternyata perpindahan massa air laut akibat efek Ekman secara akumulasi berarah 90° ke kanan di BBU dan 90° di BBS. Perpindahan ini disebut Ekman Transport.
Hati-hati, jangan sampai terbalik ya, geosciensters ! 
Arus laut permukaan berbelok sebesar 45° dari angin yang membentuknya, TAPI perpindahan air laut secara total sebesar 90°!

Semoga bisa memecahkan kebingunganmu J !

Read more...

Awan Cumulus, Riwayatmu Kini

>> Sabtu, 08 Mei 2010

Posting ini di-request oleh Burhan. Aku juga mau request!


Kapas-kapas putih lembut, tanpa dosa, melayang perlahan di langit yang biru, dalam beberapa jam bisa menjelma menjadi awan hitam raksasa yang memuntahkan hujan badai beserta petir!
Gimana ya, prosesnya?
Awan Cumulus, si Brad Pitt-nya awan (maksudnya terkenal banget gitu), termasuk salah satu jenis awan konvektif.Awan cumulus terbentuk akibat arus udara  ke atas (konveksi) yang membawa uap air, mengembun di ketinggian, menghasilkan kapas-kapas putih di langit. Seperti lagu Bengawan Solo, awan cumulus juga punya riwayat loh… alias siklus hidup dari kelahiran, masa kejayaan, sampai wafatnya. Semua itu terangkum dalam gambar di bawah ini:
Photobucket

KELAHIRAN (tingkat cumulus). Radiasi matahari memanaskan permukaan tanah, bikin udara di deket tanah jadi hot. Karena udara yang panas lebih enteng, perlahan parsel udara itu naik. Pada ketinggian tertentu, ia mengembun. Terbentuk deh awan cumulus. Arus udara ke atas mendominasi fase ini.

DEWASA (tingkat masak). Seiring waktu, awan cumulus lenyap karena penguapan lalu muncul lagi, lalu lenyap lagi lalu muncul lagi… tiap prosesnya menambah kandungan uap air di udara. Alhasil makin lama Cumulus yang terbentuk pun makin gede… menjadi cumulus congestus (cumulus yang sudah berkembang). Makin lama, awan cumulus makin tinggi aja sampai menjadi Cumulonimbus, akibatnya di bagian atas udara jadi cold bin berat sehingga “jatuh” dan menimbulkan arus udara bawah. Arus udara pun sekarang ada atas dan bawah.. Pada saat inilah hujan shower + thunderstorm menggelar konser akbarnya.

TUA (tingkat pelenyapan). Makin lama arus udara bawah makin eksis dan menggeser kedudukan arus udara atas dalam tangga box office.

emangnya film!

Kehilangan kelembaban yang dibawa arus udara atas, awan badai pun melemah …. Dan menghilang perlahan.

Awan badai satu-sel mengalami ketiga proses tersebut dalam satu jam atau kurang. Karenanya...
jangan lewatkan “pemutarannya” di langit-langit terdekat di kota anda!

Read more...

Cara Baca Hasil Pengukuran Campbell-Stokes

>> Kamis, 06 Mei 2010

Posting ini di-request oleh Ajang. Aku juga ingin request!

Pada tahun 1835, Pak John Francis Campbell mendapat ide cemerlang *clingg* tentang desain alat yang bisa mengukur durasi penyinaran matahari, atau bahasa kerennya saushine recorder, eh, sunshine recorder.  
:p
Idenya begini: kita pasang bola kaca sebagai lensa cekung yang bakal memfokuskan sinar matahari ke suatu titik. Sinar yang terfokus itu akan membakar kartu pencatat. Kalau matahari tidak cukup terik (terhalang awan misalnya), maka kartu pun akan selamat tanpa noda terbakar. Akibat gerak semu harian matahari, posisi titik di kartu yang siap dibakar akan bergeser setiap waktunya. Dengan cara inilah, kita akan tahu kapan matahari bersinar dan kapan redup.

Ide ini kemudian diperbaharui oleh Sir George Gabriel Stokes pada1879 sehingga menghasilkan alat Campbell-Stokes yang kita kenal sekarang, seperti ini
Photobucket

sedangkan kartun pencatatnya seperti ini.
Photobucket



Di daerah dengan empat musim, terdapat 3 jenis kartu pencatat : winter card untuk digunakan mulai 15 Oktober sampai 29 Februari, equinox card mulai 1 Maret sampai 11 April dan 3 September sampai 14 Oktober, dan summer card mulai 12 April sampai 2 September.

Bisa tebak kartu di atas termasuk tipe apa?
Yup, itu summer card. Perhatikan di bagian bawah ada tulisan “12 APR 02 SEPT”.

Kartu pencatat didesain untuk digunakan per hari, sehingga tiap hari harus diganti dengan yang baru. Dalam kartu itu, terdapat penanda waktu dalam jam. Perhatikan gambar di atas, terlihat garis panjang dengan angka 9 di atasnya juga garis panjang dengan angka 12 di atasnya; jelas maksudnya jam 9 dan 12 dong. Bekas terbakarnya sendiri terlihat di bagian kebawah, kecoklatan gitu.

Contoh pembacaan? Pada kartu di atas, bisa dibaca bahwa jam 12 siang sampai 2 siang sinar matahari terhalang.

Gampang, ‘kan?

Sebenarnya tidak juga, sih. Bahkan antara satu observer dengan observer lain sering terjadi silang pendapat mengenai interpretasi kartu pencatat Campbell-Stokes ini (katanya sih). Tapi memang sih, hampir semua analisis kebumian itu bergantung pada interpretasi seseorang. Makanya, sebagai calon ahli kebumian (cieh..), kita harus mempelajari kebumian dengan sungguh-sungguh dan benar-benar mengerti ilmunya sehingga interpretasi kita terhadap data-data semacam ini bisa lebih akurat. Kalau nggak, bisa berabe lah!

SEMANGAT! J

Sumber: Wikipedia

Read more...

Mengukur Suhu Inti Matahari (dan Fakta-fakta Matahari Lainnya)

>> Selasa, 04 Mei 2010

Posting ini direquest oleh Irsyad. Aku juga mau request!
Geosciensters kayak kita-kita mah dari dulu udah tahu kalau suhu inti matahari 15 juta K. Tapi terpikir ga, gimana caranya manusia mengukurnya?

Photobucket

Yang jelas ga pake thermometer lah…

Ssst… walaupun jelas-jelas ga mungkin mendatangi inti matahari sambil menenteng termometer,tapi kalau kita menerapkan beberapa hukum fisika, suhu inti matahari bisa loh diperkirakan!



 step 1
Pertama-tama nih, geosciensters, harus dipahami bahwa matahari itu bola gas. Kalau misalnya matahari ga punya gravitasi, gas-gas penyusunnya bakal menyebar ke ruang angkasa dong.. secara ga ada yang mengikat mereka jadi satu. Tapi kalau matahari hanya punya gaya gravitasi, volumenya bakal jadi lebih kecil dari sekarang. Terus kok bisa matahari kita volumenya lebih gede? Itu karena matahari menyebarkan energi ke luar juga. Jadi, ada dua gaya yang saling berlawanan:
1) gravitasi matahari, yang menarik partikel-partikel gas ke dalam
2) Penyebaran energy matahari, yang mendorong partikel-partikel gas ke luar

 step 2Kemudian, kita harus mencari massa matahari. Ini bisa dicari dengan hukum gravitasi dan hukum sentripetal antara matahari dan planet-planet yang mengorbitnya.

 step3Ketika kita tahu massa matahari, kita juga bisa langsung tahu besar gravitasi matahari dan dari situ kita bisa mendapatkan perhitungan berapa besar ukuran matahari. MASALAHNYA, matahari kan menyebarkan energi?! Nanti pasti ada selisih antara hasil perhitungan kita memakai hukum-hukum fisika tadi dengan hasil pengamatan langsung (i.e. melihat matahari pakai teleskop berfilter dan mengukur diameternya untuk menghitung volumenya).

 step 4Selisih yang ada akan memberitahu kita seberapa banyak energy yang dipancarkan matahari secara total. Nah, pancaran energi akan berhubungan dengan temperaturnya. Dan dibutuhkan suhu inti tertentu sehingga bisa memancarkan energi sebesar yang dihitung tadi.

Begituuulah caranya!!

Sumber: Department of Energy, USA

Read more...

Dalamnya Bumi, Siapa yang Tahu?

Masih ingat soal ini?

29. Bagaimanakah cara para ahli geofisika mengetahui adanya struktur internal bumi?
A. melakukan pengeboran
B. menghitung jenis batuan yang ada di bumi
C. melakukan pemotretan dengan satelit dan pesawat udara
D. meneliti perilaku rambat gelombang gempabumi
E. menghitung variasi kecepatan rotasi planet bumi
(OSK 2008)
yah, kita tahu struktur dalam bumi seperti ini:
Photobucket

pun karena jasa dari gelombang-gelombang gempa.
Tapi, gimana ya caranya?

Seperti yang sudah di jelaskan di posting ini, ada dua jenis gelombang gempa yang merambat di interior bumi, yaitu P-wave dan S-wave. Berbeda dengan P-Wave yang bisa merambat via medium apa saja, S-wave cuma bisa merambat di medium padat.

Gempa di suatu tempat di bumi akan menghasilkan P-wave dan S-wave yang akan menyambangi SELURUH bagian bumi. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, sebelum ahli geofisika tahu isi perut bumi kayak apa, mereka memperkirakan bahwa kalau misalnya densitas bumi makin tinggi saat makin mendekati inti, maka gelombang gempa akan dibiaskan secara teratur sehingga penjalaran gempa akan seperti ini
 
Photobucket

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, kita bisa memperkirakan waktu datangnya gelombang gempa di suatu tempat. Misalnya, sebuah gempa terjadi di Amerika Serikat. Maka, berdasarkan model-model di atas, bisa diperkirakan bahwa getaran dari gempa di AS itu akan dideteksi oleh seismograf di Jakarta pada pukul xx:xx GMT, di Australia pada pukul xx:xx GMT, dan seterusnya.

TAPI, kenyataannya lain! 
Ketika terjadi gempa di suatu tempat, ada beberapa bagian dunia yang tidak merasakan gelombang P… bahkan beberapa tempat tidak merasakan gelombang gempa sama sekali! "shadow zone" itu tergambar seperti ini:

Photobucket


Itu artinya, model di atas SALAH!   
Lalu, yang bener gimana dong?
Keanehan tadi nggak akan aneh lagi kalau ternyata bumi punya inti cair, yang menghentikan S-wave dan membiaskan P-wave.


Dan… inilah penemuan inti cair bumi.

Gelombang gempa jugalah yang membantu Andrija Mohorovivic, seorang seismologis Kroasia, dalam menentukan batas kerak dan mantel bumi alias Moho. Pak Mohorovivic mencermati satu fenomena aneh: saat terjadi gempa, lokasi yang berjarak >200 km menerima gelombang P dengan  kecepatan lebih tinggi daripada gelombang P yang diterima lokasi-lokasi <200 km! Usul beliau: terdapat suatu lapisan di bawah kerak yang densitasnya lebih tinggi, sehingga gelombang P yang melalui lapisan tadi bisa merambat lebih cepat daripada gelombang P yang lewat kerak saja. Itulah mantel bumi!

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut.
Photobucket

Dengan metode yang sama, akhirnya ketahuanlah lapisan-lapisan yang terkubur di perut bumi.

Read more...

Mesosfer = Lapisan Atmosfer Terdingin, Tapi Membakar Meteor?

Posting ini direquest oleh Irsyad. Aku juga mau request!


Sudah ada mesosfer setebal 20 kilometer, eh masih banyak juga meteor-meteor yang nyelonong menyambangi permukaan bumi kita seperti di Teluk Bone dan Duren Sawit (Jakarta) baru-baru ini. Gimana kalau nggak ada sama sekali ya.. wah pastinya kehidupan di bumi ga mungkin ada. By the way, ngerasa aneh ga sih, geosciensters, bukannya mesosfer itu lapisan terdingin dengan suhu sampai -100°C, tapi kok bisa “membakar” meteor?

Photobucket


Sebenarnya ini ga aneh loh, geosciensters. Jawabannya: gesekan.

Pernah kan, waktu udara dingin, kamu menggosokkan kedua telapak tanganmu biar hangat? Begitu jugalah cara kerja mesosfer. Mesosfer memiliki cukup densitas untuk “menggosok” meteor-meteor yang masuk ke bumi sampai terbakar. Apalagi meteor-meteor itu jatuh bebas dengan kecepatan yang luar biasa, bisa dibayangkan gaya geseknya besar sekali!

Pertanyaannya: mengapa yang membakar meteor bukan lapisan termosfer saja, yang jauh lebih panas?

Sebenarnya, termosfer dan eksosfer itu tidak sepanas yang diberitakan!
Kalau kamu membawa thermometer biasa ke atas sana dan mengukur suhunya, kamu akan dapatkan hasil pengukuran yang super dingin! Kok bisa?

Seperti yang kamu tahu, makin panas suatu zat, maka gerak partikelnya semakin cepat. Partikel-partikel udara di termosfer bagian tengah sampai eksosfer bergerak sangat cepat, secepat partikel yang bersuhu ratusan derajat Celcius. Tapi, udara disana tipiiiiiiis sekali dengan jumlah partikel sangat sedikiiiiiiit. Padahal kebanyakan energy yang diserap thermometer atau dirasakan oleh kulit/meteor berasal dari konduksi. Jadi, walaupun suhu partikel udaranya tinggi sekali, tetapi jumlahnya terlalu sedikit sehingga suhu lingkungannya rendah sekali. Begitu… Jadi meteor sih aman-aman saja melewati eksosfer dan termosfer yang “hot” sampai akhirnya dihadang si mesosfer yang “cool” . Hehehe.

Mesosfer itu ibarat pedang bermata dua (bagi manusia sih). Di satu sisi dia berjasa melindungi bumi dari bombardir meteor, tapi di sisi lain mesosfer bisa juga membakar pesawat luar angkasa yang kita luncurkan dengan biaya jutaan dolar. Solusinya? perlindungan ekstra. Badan pesawat ulang-alik/satelit dilapisi bahan-bahan yang tahan panas, seperti berilium, tungsten, karbon-karbon reinforsi,dan  karbon ablatif sehingga tahan dari gaya gesek nan hot dari mesosfer.

Photobucket

Read more...

“Gelombang Cinta?” Macam-macam Gelombang Gempa

>> Senin, 03 Mei 2010

Posting ini di-request oleh anonim . Aku juga pingin request!

Ini nggak ada hubungannya dengan perasaan manusia yang begini , apalagi tanaman hias! Dalam geofisika, istilah gelombang cinta benar-benar ada. “Love wave” , salah satu jenis gelombang gempa yang merambat di permukaan, pertama kali ditemukan oleh A. E. H. Love pada 1911. Mau tahu lebih dalam? Baca terus, karena posting ini bakal ngebahas gelombang-gelombang gempa sampai tuntas !

---GELOMBANG GEMPA---

Gelombang gempa (Seismic Waves) adalah gelombang-gelombang yang menjalar di bumi, biasanya dihasilkan oleh gempa tektonik. 
Walaupun bisa juga gelombang ini muncul karena ledakan buatan, misalnya akibat percobaan bom nuklir bawah tanah—memang ada loh!

Secara umum, gelombang gempa dikategorikan menjadi Body Wave dan Surface Wave.

1. Body Wave
 gelombang yang merambat di interior bumi. Terdiri atas:
a) P-Wave/Compressional Wave/gelombang primer, ciri-ciri:
Photobucket
- gelombang longitudinal (arah gerak partikel searah dengan arah rambatan)
- kecepatan 330 m/s di udara, 1450 m/s di air, dan sekitar 5000 m/s di granit
- Bisa merambat di segala jenis medium (padat, cair, gas)
- relatif paling “lembut” dibandingkan dengan S-Wave dan Surface Wave yang sangat merusak
- Amplitudo terkecil

b) S-Wave/Shear Wave/gelombang sekunder, ciri-ciri:
Photobucket
-  gelombang transversal (arah gerak partikel tegak lurus dengan arah rambatan)
-  kecepatan 60% dari P-Wave
- Bisa merambat di medium padat saja!
- efek kerusakan lebih besar dari P-wave
- Amplitudo lebih besar dari P-wave

2. Surface Wave
gelombang yang merambat di sepanjang permukaan bumi. Terdiri atas:
a) Love Wave
Photobucket
- gelombang transversal (arah gerak partikel tegak lurus dengan arah rambatan)
- kecepatan 70% dari S-wave
- Paling merusak, terutama di daerah dekat episentrum
- Getaran yang dirasakan manusia pertama kali
- Ditemukan oleh A.E.H Love pada 1911

b) Rayleigh Wave
Photobucket
- gerakan eliptik retrograde/ “ground roll” (tanah memutar ke belakang tapi secara umum gelombangnya merambat ke depan—analog dengan gelombang laut)
- Sedikit lebih cepat dari Love Wave (90% dari kecepatan S-wave)
- ditemukan oleh Lord Rayleigh pada 1885


Artikel terkait
-          Dalamnya Bumi, Siapa yang Tahu?
-          eQuake Alert

Read more...

EQuake Alert

Update status? Facebook dong.
Update gempa? eQuake Alert!

Photobucket

Buat kamu-kamu yang memakai browser Mozilla Firefox, ada add-on inovatif bernama eQuake Alert. Begitu ada gempa di suatu tempat di bumi, screen Firefox kita akan bergetarrrrr seakan ikut digoncang gempa gitu! Keren kan? XD

cara menginstallnya :
1. buka Mozilla Firefox, klik Tools -> Add on -> Get add on -> ketik pada isian eQuake Alert
2. get add on, install , restart firefox

voila.. disebelah kanan bawah akan muncul report gempa terkini. Gak bakal ketinggalan berita gempa deh!

Read more...

Tentang TOIKI.or.id

TOIKI.or.id merupakan situs resmi dari Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang menyediakan berita terbaru seputar Olimpiade Kebumian, materi-materi belajar Kebumian dalam KebumianZone, dan toko resmi buku-buku dan peralatan penunjang pelatihan Olimpiade Kebumian.

Kontak TOIKI

Pembina
Dr. D. Hendra Amijaya, ST, MT
d/a Teknik Geologi UGM
Jl. Grafika 2 Yogyakarta 55281

lebih lanjut >>


  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com, improved bySaushine2011

Back to TOP