Kerak, Lempeng, atau Litosfer? The Very Basic of Geoscience! – PART I

>> Selasa, 30 November 2010

Guru SMP: “Bumi terdiri atas apa anak-anak???”
Murid SMP: “atmosfer, hidrosfer, geosfer ama biosfer Buuu...”
Guru SMP: “baguuus.... kalau geosfer bagian-bagiannya apa aja anak-anak??”
Apa jawabanmu, geosciensters?

Inilah salah satu pertanyaan paling mendasar di bidang kebumian: 
bumi padat/solid earth terdiri atas lapisan apa saja?

KebumianZone yakin deh, semua orang yang buka kebumianzone.co.nr ini pernah lihat, minimal sekali dalam hidupnya, diagram yang menujukkan isi perut bumi kalau misalnya Bumi bisa dipotong laiknya telor asin. Seperti ini.

Dan emang sih bentuknya kayak telor asin, makin ke dalem makin menguning! (belum waktunya makan siang loh, geosciensters... hehehe)

Dilihat dari diagram di atas, lapisan-lapisan dalam Bumi mulai dari permukaan (yang sekarang kita injak) sampai ke inti Bumi adalah:kerak, mantel, inti luar, dan inti dalam. Hmm... itukah jawaban atas pertanyaan Bu Guru SMP?

Guru SMP: “... kalau geosfer bagian-bagiannya apa aja anak-anak??”


Sebagai murid SMP, jawaban seperti itu bisa dimaklumi. Tapi sebagai anak olim kebumian yang bersiap-siap bertarung di ajang International Earth Science Olympiad, jawaban itu nggak bisa diterima!

Huwaaaa ... terus gimana dong, KebumianZone?

Tenang, nggak usah panik. Sebenarnya, memang benar kerak, mantel, dan inti luar dan inti dalammerupakan lapisan-lapisan geosfer, tetapi jika ditinjau dari komposisi kimianya. Jika ditinjau dari sifat fisiknya, Bumi terdiri atas litosfer, astenosfer, mesosfer, inti luar, dan inti dalam.

Dilihat dari sifat fisik lapisannya, bumi terdiri atas:
a.      Litosfer: sifat padat tetapi rapuh (relatif gampang patah, kayak kayu), ketebalan 100-150 km. Litosfer sama dengan lempeng.
b.      Astenosfer: sifat padat tetapi liat (fleksibel, seperti tembaga). Inilah sumber magma.
c.      Mesosfer: sifat padat seperti litosfer, pada kedalaman 300-2900 km.
d.      Inti luar: sifat cair (beda dengan astenosfer!!!), Temperatur 4000-5000°C, pada kedalaman 2900-5200 km
e.      Inti dalam: sifat padat. Temperatur 5000-6000°C. Pada kedalaman 5200 km-6371 km.

Dilihat dari segi komposisi kimianya, bumi terdiri atas:
a.      Kerak: komposisi kimia kaya silikat
b.     Mantel: komposisi kimia miskin silikat, sangat dominan Fe dan Mg dibandingkan kerak
c.      Inti: dominan Fe dan Ni (beberapa ahli membaginya menjadi inti dalam dan inti luar, karena inti dalam memiliki kandungan Fe yang sedikit lebih banyak)

Coba lihat; inilah kedua cara membagi isi dalam bumi



Jadi apa itu litosfer? Litosfer adalah bagian terluar kulit bumi yang sifatnya padat, terdiri atas kerak yang sifatnya padat dan mantel bagian atas yang juga padat.
Apa itu astenosfer? Mantel bagian tengah yang sifatnya plastis, terletak di bawah litosfer.
Apa itu mesosfer? mantel bagian bawah yang sifatnya padat, terletak di bawah astenosfer.
Apa itu inti luar? Inti bumi bagian luar yang sifatnya cair.
Apa itu inti dalam? Inti bumi bagian dalam yang sifatnya padat.

Jadi, kedua klasifikasi ini saling bertumpukan; bagian yang sedang kita injak ini bisa disebut kerak ataupun litosfer (lempeng), tergantung berdasarkan apa: sifat fisik atau komposisi kimia.

Sekarang, inilah jebakan besar yang kamu harus super hati-hati: kerak benua dan kerak samudera vs. Lempeng benua, lempeng samudera, dan lempeng benua-samudera.

Mau tahu? Nantikan “Kerak, Lempeng, atau Litosfer? Mantel, Astenosfer, atau Mesosfer?  The Very Basic of Geoscience!—PART II” :)

Read more...

Konsep Penanggalan Relatif dan Absolut – Part I

>> Kamis, 25 November 2010

Kak,,,, mhon Posting tntang Radioaktivitas,,,, mlai dr dsar kl bs,,,, Maklum Ank IPS,,,,,, ava_geoscientistkediri 
Geologi selalu bersinggungan dengan waktu. Setiap kali kita berhadapan dengan suatu tubuh batuan, penting banget bagi kita untuk menjawab: batuan ini kapan terbentuknya ya?

Nah, untuk menjawabnya, geologi ngasih kita dua senjata ampuh: penanggalan relatif dan penanggalan absolut. Penanggalan relatif menjawab antara batuan A dan batuan B lebih tua yang mana. Cara tahunya? Kita bisa menerapkan hukum-hukum geologi: seperti Superposisi, Cross-cutting relationship, hukum inklusi, dsb.

Kamu udah pernah baca tentang hukum-hukum di atas? Kalau sudah, silakan lanjutkan membaca artikel ini. Kalau belum, baca dulu posting: hukum-hukum geologi. Penting buat minimal sekedar tahu, karena kalau nggak ada basic tentang hukum-hukum geologi sama sekali, kamu akan kesulitan memahami artikel ini..

Oke, semua udah baca tentang hukum-hukum geologi? Baguuus... mari kita lanjutkan! :)

Untuk melatih pemahaman kita soal penanggalan relatif, mari kita kerjakan soal KebumianTryout#2, Oktober 2010 ini.

6. perhatikan gambar berikut. Manakah yang benar?
a. granit terbentuk bersamaan dengan batupasir
b. granit terbentuk sebelum batupasir
c. granit terbentuk setelah batupasir
d. granit berada di atas batupasir
e. umur granit dan batupasir tidak bisa ditentukan

Kita lihat pada gambar, ada pecahan-pecahan batu warna coklat (yaitu pecahan batupasir) masuk ke dalam batuan yang berwarna merah (granit). Dengan begini udah jelas dong, kita harus memakai hukum inklusi yang berbunyi:

Jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan.”

Maksud hukum di atas, kalau ada pecahan batuan A yang ‘nebeng’ di dalam batuan B, pertama-tama pecahan batuan A harus ada terlebih dahulu, barulah terbentuk batuan B yang menimbun pecahan batuan A. Untuk kasus no.6, memang begitulah jawaban yang logis: harus ada batupasir dulu, barulah batupasir itu diterobos granit, dan beberapa fragmen batu pasir ngikut di dalam granit. Nggak mungkin dong granit makblek terbentuk duluan, lalu tiba-tiba pecahan batupasir masuk-masuk ke dalamnya. Gimana caranya fragmen-fragmen yang kecil itu menembus tubuh granit yang keras kompak?? Nggak logis! Makanya, jawaban untuk no.6 adalah C.

Jelas ya? Ilmu kebumian itu soal logika :)

Nah, berdasarkan penanggalan relatif, ternyata oh ternyata batu granit ternyata lebih muda dari batupasir. Sekarang, berapa tahunkah tepatnya perbedaan umur antara batugranit dan batupasir? 100 tahun? 1000 tahun? 10 juta tahun? Di sinilah metode penanggalan relatif harus undur diri, menyerahkan tongkat estafetnya ke metode penanggalan absolut. Dengan penanggalan absolut, kita bisa tahu tanggal ulang tahun suatu batuan secara precise. Hmm... kalau mau tahu tanggal ulang tahun seorang temen, kan kita tinggal nanya: “eh, ulang tahunmu kapan?” atau ngintip di info Facebooknya. Lah kalo batuan??  Nanya ke rumput yang bergoyang mah ada lagunya, tapi kalau nanya ke batuan?? Dan emangnya batuan punya Facebook??

Hmmm gimana yaaaa caranya? Tunggu posting: Konsep Penanggalan Relatif dan Absolut – Part II, berikutnya.

Buat geosciensters yang penasaran mampus, inilah petunjuknya: kita minta bantuan NUKLIR. Hayo tebak apa? hehehehe

Read more...

Menyibak Misteri Dasar Laut: Passive Margin

>> Selasa, 16 November 2010


Assalamu'alaikum, kebumianzone yang baik hati, aku mau request mengenai penjelasan daerah shelf break dkk. terima kasih Aku tunggu jawabannya—tubifora

 Perhatikan gambar berikut.  

4. Daerah shelf break ditunjukkan oleh huruf ...  
a.  A                b.  B                c.  C                 d.  D                e.  E 

5.  Daerah dimana terjadi aktivitas vulkanik ditunjukkan oleh huruf... 
a.  A                b.  B                c.  C                 d.  D                e.  E 

Kedua soal diatas merupakan soal KebumianTryout #1, September 2010. Woot, apatuh KebumianTryout? Yap, tiap bulan, kami mengadakan TO Kebumian online berskala nasional loh..  khusus untuk membantu kamu mempersiapkan diri buat OSN Manado 2011. GRATIS!! Jadi, kalau kamu siswa SMA kelas X atau XI, yuk buruan daftar! Caranya? Klik: kebumiantryout

Okay, kita kembali ke soal no 4 dan 5. Tentunya kamu sudah bisa menebak, dari bentuk yang dilukiskan oleh gambar di atas, dari label-labelnya (continental margin, ocean basin, abyssal plain) bahwa gambar diatas merupakan penampang dasar samudera. Kalau kamu suatu hari berkesempatan numpang di kapal selam bertenaga nuklir punya Amrik dan dibawa jalan-jalan menikmati indahnya dasar Sam. Pasifik, yaaa... kira-kira gitu deh bentuknya dasar laut.

Dalamnya laut bisa ditebak, dalamnya hati siapa yang tahu? Hehehehe

Apakah semua samudera di Bumi ini punya profil persis seperti itu? Sebenarnya.. nggak juga. Tiap samudera punya karakter khas masing-masing.

Salah satu karakter yang membedakan adalah jenis tepian samuderanya, atau marginnya. Secara umum, terdapat dua jenis tepian samudera: passive margin dan active margin. Suatu samudera tepinya disebut pasif kalau pada tepiannya tidak dijumpai batas lempeng atau aktivitas tektonik. Sebaliknya, suatu samudera tepinya disebut aktif kalau pada tepiannya terdapat aktivitas tektonik yang intens—dengan kata lain, tepian samudera ber-active margin juga merupakan batas lempeng.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan peta lempeng tektonik berikut.
  
Samudera Atlantik merupakan salah satu contoh samudera ber-passive margin.  Perhatikan, tepi Samudera Atlantik kan berbatasan dengan Benua Afrika dan Amerika Selatan.. tetapi tepi itu bukan merupakan batas lempeng! Lempeng Afrika dan Lempeng Amerika Selatan justru bertemu di tengah-tengah Samudera Atlantik, sehingga tepi samuderanya nggak aktif.

Lain halnya dengan samudera Pasifik; bisa kamu lihat, tepi-tepi Samudera Pasifik dipenuhi garis-garis hitam yang menandakan pertemuan lempeng! Dengan kata lain, banyak banget aktivitas tektonik di tepian samudera Pasifik... sehingga kita pun menamainya active margin.

Jelas, ‘kan, geosciensters? :D

Nah, pada artikel kali ini, KebumianZone akan membahas soal profil dasar samudera tipe passive margin.



Dasar samudera tipe passive margin terbagi atas dua bagian : continental margin (tepi benua) dan ocean basin (cekungan samudera). Continental margin adalah bagian samudera yang berdekatan dengan daratan (benua) dan masih mendapat pengaruh daratan, misalnya masih menampung endapan aluvial dari sungai. Bagian-bagian dari continental margin sendiri antara lain:

a.       Continental shelf: continental shelf yang landai ini sebenarnya masih bagian dari benua. Bahkan, pada zaman es, bagian ini kering loh! (Pada waktu zaman es kan air laut surut). Sedimen yang menutupi continental shelf  berasal dari benua, namun sedimen tersebut  70% berasal dari endapan sungai waktu zaman es dulu; sungai yang sekarang bermuara di sana dan mengendapkan material cuma berkontribusi sedikit.

b.      Shelf break: batas berakhirnya shelf dan dimulainya continental slope. Uniknya, di samudera manapun di dunia, batas shelf break selalu berada di sekitar 140 m di bawah permukaan laut! Wah, wah... kompak banget sih! Kemungkinan besar, ini merupakan sisa-sisa zaman es dulu, dimana level air laut lebih rendah dari sekarang dengan tepian berada di shelf break.

c.       Continental slope: sesuai namanya, karakter khas continental slope adalah slopenya alias kemiringannya yang curam abis! Kebanyakan continental slope ‘dihiasi’ lembah-lembah gelap nan curam hasil dari pahatan arus turbid. Mau tau lebih lanjut? Baca artikel satu ini.

d.      Continental rise: setelah kita asyik maen perosotan menuruni continental slope nan curam, kita bertemu lagi dengan bagian tepi benua yang landai yaitu continental rise.  Kemiringannya bervariasi antara 0,5 sampai 1°, melampar hingga 500 km dari slope.

Sedangkan bagian dari cekungan samudera alias ocean basin:
a.      Abyssal plain: dataran di tengah samudera yang dalam dan luas.

b.      Mid Oceanic Ridge: pada mid oceanic ridge, terdapat dua buah lempeng samudera yang saling menjauh. Akibatnya, magma dari dalam Bumi keluar di pertengahannya, lalu membeku, dan membentuk tebing-tebing tinggi yang memanjang mengikuti batas lempeng. Hm... tebing tinggi yang memanjang... Mirip punggung ya? Makanya, fitur ini disebut punggungan tengah samudera alias mid oceanic ridge.

Begitulah :D 

Read more...

22 Siswa Memastikan Diri Lolos ke Pelatnas 2 IESO 2011

>> Senin, 15 November 2010

Hari Sabtu kemarin adalah hari yang mendebarkan bagi ke-28 pejuang kebumian kita yang sedang mengikuti Pelatnas (Pelatihan Nasional) Tahap I Olimpiade Kebumian di Yogyakarta. Yup, setelah pada Jum’at kemarin mereka menjalani tes Komprehensif yang bikin otak ‘kembang-kempis’, esoknya Pak Hendra selaku ketua tim IESO Indonesia langsung mengumumkan siapa yang lolos ke babak selanjutnya. Waaaah, siapa ya?? Tapi sebelum KebumianZone bongkar total nama-nama 22 siswa yang beruntung tadi, yuk kita lihat kegiatan apa aja sih yang pejuang-pejuang kebumian jalani selama sebulan penuh ‘bermeditasi’ di Hotel Cakrakembang, Yogyakarta. 

peserta Pelatnas I IESO 2011 menamakan diri sebagai 'GEOTHITE'

Sebagai persiapan menuju IESO 2011 di Italy (+.+), Bapak Dr. D. Hendra Amijaya, “Bapak” Tim IESO Indonesia dan juga merupakan dosen di Jurusan Teknik Geologi UGM, mentitahkan 30 siswa-siswa yang berhasil menggondol medali emas, perak, perunggu plus 3 siswa tanpa medali namun dengan nilai cukup tinggi untuk menjalani Pelatnas Tahap I. Namun, dari 33 siswa yang dipanggil, sebanyak 5 orang mengundurkan diri, kebanyakan karena memilih untuk fokus ke Ujian Nasional. Hingga akhirnya sebanyak 28 siswa lah yang menapakkan kaki ke tahap I seleksi road to Italy ini! 

Seperti biasanya, Tahap I Kebumian bertempat di luar negeri, yaitu Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat (hehehe). Seperti biasa pula, pelatnas berlangsung selama kurang lebih satu bulan di bawah naungan Teknik Geologi UGM. Tentu saja materi bahasan dalam pelatnas I ini nggak jauh-jauh dari geologi, antara lain:
1.       konsep dasar kebumian
2.      Kristalografi dan mineralogi
3.      Petrologi: Batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf
4.      Peta topografi
5.      Geologi struktur
6.      Geomorfologi
Namun, yang nggak seperti biasanya, dan juga yang bikin kakak-kakak alumni ‘geregetan’, adalah: pelatnas I kali ini bertempat di hotel! Tepatnya di Hotel Cakrakembang,  dengan fasilitas kolam renang dan dekat pusat kota!!! T.T

aih senangnya... kita dulu mah nginap di wisma P4TK Seni dan Budaya, terletak di Jalan Kaliurang km 12 (di atas banget). Tapi pelatnas kita seru juga kok, dengan udara dingin khas pegunungan dan pemandangan yang indah :PPP (ga mau kalah)

di hotel Cakrakembang ini, nggak cuma anak-anak Kebumian aja yang mendadak jadi tamu setia; di tempat yang sama juga diadakan Pelatnas I Olimpiade Matematika.

Terus, belajarnya anak pelatnas gimana sih, KebumianZone? Jadi, terdapat 4 jenis proses belajar selama pelatnas ini:
1.      Kuliah: belajar di kelas bersama dosen-dosen dari Teknik Geologi UGM
2.      Praktek Lab: menjadi ‘mahasiswa dadakan’, belajar di lab-lab yang terdapat di Teknik Geologi UGM
3.      Field Trip: jalan-jalan ke gunung, pantai, dsb. untuk melihat langsung geologi di alam
4.      Mentoring: belajar dengan suasana informal ditemani kakak-kakak Asisten IESO di ruang kelas. Sifatnya nggak wajib (kalau lagi pengen belajar di kamar masing-masing juga boleh), biasanya berlangsung pada malam hari.

Tuh, ‘kan? Meskipun bolos sekolah sebulan, nggak berarti anak-anak olim enak-enakan! Malah pelajarannya jauh lebih ‘parah’ dari pelajaran-pelajaran di sekolah.. normalnya materi-materi ini sebenarnya baru diberikan untuk para mahasiswa Teknik Geologi! @_@ Apalagi nggak hanya belajar saja, anak-anak pelatnas juga harus mengerjakan TES secara berkala dan setiap tes akan diranking. Ranking itulah yang menjadi dasar penentuan siapa yang berhak menjadi sang pelatnas-er tahap II.

Siapa aja? Nggak pake lama, ini dia:

1.     1. Syera Afita Ratna (SMAN 1 Banjarnegara)
2.      2. Ferralda Thalita Amir (SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta)
3.      3. Muhammad Reza Ardian (SMAN 1 Depok)
4.      4. Imam Fajri Wiyono (MAN Insan Cendikia Serpong)
5.      5. Farizky Hisyam (SMAN 3 Malang) :)
6.      6. Irvan Febrianto (SMAN 48 Jakarta)
7.      7. Sukianto Kurniawan (SMAN 8 Pekanbaru)
8.      8. Ichwan Sangiaji (SMAN 34 Jakarta)
9.      9. Anarita Widya (SMAN 8 Yogyakarta)
10.   10. Ajang Rukmayana (SMAN 1 Cisarua)
11.   11. Fenini
12.   12. Putri Rafika Dewi (SMAN 1 Pati)
13.   13. Iqlima Luthfita Sari (SMAN 3 Malang) :)
14.   14. Thomas Teguh Wijaya (SMAK Petra 2 Surabaya)
15.   15. Safrul Setiawan (MAN Insan Cendikia Gorontalo)
16.   16. Yuda
17.   17. Maghfira Abida (SMAN 1 Magelang)
18.   18. Bintang Rahmat Winanda (SMAN 8 Jakarta)
19.   19.Muhammad Chandra (SMAN 48 Jakarta)
20.   20. Andrean Eka Lucianto (Taruna Nusantara Magelang)
21.   21. Muhammad Luthfi (SMAN 1 Cianjur
22.   22. Ferdinand M. Sinatupang (SMAN 99 Jakarta)

Yap!
semoga sukses untuk Tahap 2 yang akan dilaksanakan sekitar 2 bulan lagi di kota kembang, Bandung, dengan materi meteorologi dan/atau astronomi!

Haaah? Pelatnas 2 kok materinya langsung meteo astro?? Iya nih, persiapan IESO 2011 ini emang agak beda.. kalau biasanya pelatnas 2 masih seputar geologi, sekarang mereka langsung banting setir ke meteo dan astro...

Waah asik banget sih pelatnas I !!! tentunya kamu juga pengen baaaaaanget dong berhasil meraih medali di OSN 2011 Manado lalu bergabung dengan Tim INA ke Jepang untuk bertarung di IESO 2012? Makanya, persiapkan dirimu sedini mungkin, salah satunya dengan mengikuti KebumianTryout, Tryout Kebumian Online berskala nasional pertama di Indonesia! GRATIS! More info, hit: KebumianTryout
See you there! :) 

Read more...

Ranking TO2 !

>> Kamis, 11 November 2010


Ranking TO2, KebumianTryout Oktober 2010 dapat dilihat di sini.
medali apa yang kamu raih ? :)

sampai jumpa di TO3, 28 November 2010!

Read more...

Mengukur ‘kemeriahan pesta’ gunung api dengan VEI

>> Rabu, 10 November 2010

Tahun 2010 ini, kayaknya gunungapi-gunung api di Indonesia lagi ‘berpesta’, nih! Mulai dari gunung Sinabung di Sumatera, Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru dan Bromo di Jawatimur, Gunung Salak di Jawa Barat,  sampai yang paling menghebohkan, sang tuan besar Gunung Merapi! Semua nggak mau kalah menjamu kita-kita dengan berbagai macam ‘hidangan’ lezat, mulai dari ‘bon-bon’ abu vulkanis nan lembut, ‘sup’ awan panas yang bikin anget, sampai ‘pasta’ lava pijar yang sausnya merah menyala. Duh duh duh...

By the way, ahli vulkanologi punya standar tersendiri loh untuk mengukur ‘kemeriahan’ pesta (sunatan?) yang gunungapi selenggarakan. Ukuran itu adalah VEI alias Volcano Explosivity IndexSoal tentang VEI pernah keluar di KebumianTryout#1, September 2010 loh!

9.Dahsyatnya letusan gunung bisa diukur dengan VEI (Volcano Explosivity Index). VEI letusan Krakatau 1883 mempunyai VEI sebesar ... 
a. 9        b. 8         c. 7         d. 6         e. 5 


 Letusan Krakatau 1883

            VEI, sekali lagi, adalah skala yang disepakati para ahli vulkanologi untuk mengukur dahsyatnya suatu letusan gunung api. Penentuannya berdasarkan atas : volume tephra (material padat) dan tinggi kolom awan. Makin besar volume material padat yang dikeluarkan, VEInya makin tinggi.  Ingat loh, yang dibicarakan disini adalah volume material padat; karena itu, meski gunung-gunung di Hawaii tiap kali erupsi mengeluarkan lava yang volumenya luarrr biasa, tetep aja VEInya rendah... masalahnya gunung-gunung di Hawaii hobinya mengeluarkan material cair namun minim material padat.

Inilah tabelnya


Dan ini tabel+contoh gunungapinya



Memang yaa... Indonesia begitu kaya, sehingga gunung-gunungnya mampu mengadakan ‘pesta’ gunungapi skala internasional ... weleh-heleh ...  dimana abunya terbang hingga Eropa Timur ! Bahkan, letusan gunungapi terbesar sepanjang sejarah duni dengan VEI 8 terjadi 73.000 tahun yang lalu di Sumatera Utara, yang sisa-sisa gunung apinya kita kenal dengan Danau Toba. (deket venue OSN 2010 ini!)

Jadi, danau Toba dulunya adalah gunung api! Bayangin... @.@ gunung segede itu ilang semua, tinggal danau yang rata dengan tanah plus 1 pulau di tengah.. seberapa gede letusannya yaaa @_@

 Bagaimana dengan Krakatau? Letusan legendaris tahun 1883 itu sukses menyabet VEI 6.

Bagaimana dengan...Merapi? VEI Letusan Merapi akhir-akhir ini berkisar antara 3,5-4 dengan tipe letusan Vulcanian menuju Plinian

 Wah, bagaimana dengan hari-hari berikutnya, apakah Merapi akan semakin memantapkan kondangannya, ataukah pesta itu akan segera berakhir?? Beberapa ahli berpendapat bahwa masa puncak erupsi sudah berakhir. Namun ada juga yang menduga letusan ini akan semakin besar terutama menjelang bulan Purnama. Sejarah mencatat erupsi-erupsi terbesar terjadi waktu bulan Purnama. Mistis? Nggak sama sekali. Ini murni karena pengaruh gravitasi bulan dan matahari yang begitu kuat saat bulan Purnama. Mau lebih tahu? Baca dong artikel dari Dongeng Geologi berikut.

Adududuh... semoga hajatan gunung-gunung berapi di Indonesia segera usai, ya!

Read more...

Pembahasan Soal

Di sini akan dibahas by request soal soal resmi OSN Kebumian berbagai tingkat (download soalnya di sini).
untuk me-request, silakan ke Ask! Kebumianzone. 
Enjoy answering! :)


1. Pembahasan Soal-soal IESO

2. Pembahasan Kota 2010 , Provinsi 2010 , Nasional 2010
3. Pembahasan Kota 2009 , Provinsi 2009 , Nasional 2009
4. Pembahasan Kota 2008, Provinsi 2008, Nasional 2008

5. Pembahasan soal-soal KebumianTryout
     - TO#1, September 2010
     - TO#2, Oktober 2010
     - TO#3, November 2010 -- coming soon

Read more...

Pembahasan OSN 2008

49. (B) Transportasi Ekman secara akumulasi sebesar 90ke arah kanan di belahan Bumi utara dan 90ke arah kiri di belahan Bumi selatan. Tetapi, sudut perpotongan antara angin permukaan dan arus laut sebesar 45 derajat. Jangan terbalik! Untuk lebih jelasnya silakan baca artikel berikut.

Read more...

Pembahasan OSP 2009

pilihan ganda 
4. (C) komposisi mineral, tekstur
11. (E) antiklin rebah
26. (D) matahari. panas matahari menjalankan siklus air, memungkinkan angin bertiup, dsb.
27. (B) Urutan sirkulasi sel global dari ekuator sampai kutub yaitu: sel Hadley, sel Ferrel, dan Sel Polar/Kutub
37. (D) Residence time uap air sekitar 10 hari.         

43. (B) angin menentukan arah arus permukaan gaya coriolis membelokkan arus laut 45 derajat dari angin yang menimbulkannya perbedaan densitas air laut menyebabkan arus dalam topografi sekitar mempengaruhi arus laut: membelokkan arus, memblok arus, dsb gaya gravitasi secara umum tidak berpengaruh menentukan/mengubah arah. Perkecualian arus turbid, dan ini sangat khusus.
46.(C) Euphotic.
47. (C) Laut pertengahan Laut pedalaman adalah laut yang hampir semua tepinya dilingkupi daratan, contohnya Laut Kaspia
54. (C) Jika dilihat dari kutub utara ekliptika, justru gerakan benda-benda di Tata Surya yang normal itu berlawanan dengan jarum jam Buktinya, matahari, bumi, dan hampir seluruh planet dan satelitnya berputar berlawanan dengan jarum jam. Gerak ini disebut prograde atau direct motion. Namun ada beberapa benda langit yang justru berputar searah jarum jam, Contohnya rotasi Venus, gerak beberapa komet dan beberapa satelit planet Jovian. Gerak yang tidak umum ini disebut retrograde. (sumber: Wikipedia)
57. (D) garis fraunhover: garis absorpsi berbagai elemen dan spektrum piringan matahari

esai
2. a. FECDGBA
b. Batuan Beku, Granit
c. ya, B dan C : disconformity
    B dan D      : nonconformity
d. sesar turun, footwall turun terhadap hanging wall, buktinya pada hanging wall letak batu E lebih rendah daripada di footwall

3. Tebal lapisan adalah panjang garis tegak lurus antara batas atas dan bawah lapisan.
Orang itu berjalan sejauh 28 m.
Tebal lapisan (d) dapat dilihat di gambar ini.








Sebenarnya, d bagian dari segitiga siku-siku ini

Dengan sudut sebesar 30-15 derajat = 15 derajat.
Jadi tebal lapisan = 28 x sin 15 = 7,2 m.





Read more...

Tentang TOIKI.or.id

TOIKI.or.id merupakan situs resmi dari Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang menyediakan berita terbaru seputar Olimpiade Kebumian, materi-materi belajar Kebumian dalam KebumianZone, dan toko resmi buku-buku dan peralatan penunjang pelatihan Olimpiade Kebumian.

Kontak TOIKI

Pembina
Dr. D. Hendra Amijaya, ST, MT
d/a Teknik Geologi UGM
Jl. Grafika 2 Yogyakarta 55281

lebih lanjut >>


  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com, improved bySaushine2011

Back to TOP