PERS RELEASE : TIM INDONESIA MEMBAWA PULANG 7 MEDALI DARI AJANG 11th INTERNATIONAL EARTH SCIENCE OLYMPIAD (IESO) 2017 DI NICE, PERANCIS

>> Kamis, 02 November 2017

Delegasi Indonesia yang terdiri dari 4 siswa dan didampingi 4 pembina mengikuti 11th International Earth Science Olympiad (IESO) yang diselenggarakan di Centre International de Valbonne, Cote d’Azur, Perancis, pada 22 s.d. 29 Agustus 2011. Ajang IESO tahun 2017 ini diikuti oleh 29 negara partisipan dan 5 negara observer.

IESO adalah ajang kompetisi siswa pra-perguruan tinggi (sekolah menengah) untuk bidang ilmu kebumian yang meliputi pengetahuan mengenai geosfer (geologi dan geofisika), hidrosfer  (hidrologi dan oseanografi), atmosfer (meteorologi  dan klimatologi) dan astronomi. Kegiatan ini dipayungi oleh International Geoscience Education Organization (IGEO) yang merupakan suatu organisasi internasional dengan anggota para pendidik/organisasi/institusi pendidikan ilmu kebumian di seluruh dunia baik untuk tingkat pra-perguruan tinggi maupun perguruan tinggi.

Tim Indonesia terdiri dari 4 orang siswa yaitu :
-          Fransiskus Litani Santoso (SMAK Ketapang 1, Jakarta Pusat)
-          Fadly M. Aulia (SMA Al Kautsar, Bandar Lampung)
-          Rifki Andika (SMAN 2 Depok)
-          Alse Nabilah (SMA Kesatuan Bangsa, Jogjakarta)

Siswa-siswa yang mewakili Indonesia dalam kompetisi ini adalah para siswa terbaik hasil seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Ilmu Kebumian Tahun 2016 di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud. Para siswa tersebut menjalani pelatihan dan seleksi melalui 4 tahap pembinaan di Yogyakarta dan Bandung selama total 3 bulan di akhir tahun 2016 dan awal tahun 2017.

Para siswa tersebut didampingi oleh beberapa pembina yaitu Drs. Zadrach L. Dupe ( Prodi Meteorologi ITB), Dr. Hakim L. Malasan (Prodi Astronomi ITB), Ir. Warsito Atmodjo ( Prodi Oseanografi UNDIP) dan Asep Sukmayadi (Kemendikbud).

Berbeda dengan olimpiade-olimpiade sains lainnya, uji kemampuan siswa pada kompetisi ini berupa tes tertulis (written test) dan tes praktek di lapangan (practical test).  Semua tes dilaksanakan di Nice dan sekitarnya. Tes tertulis dan praktek dilaksanakan di kampus Centre Internationale de Valbone. Untuk IESO 2017, seluruh tes lebih ditekankan pada penalaran siswa dalam mempraktekkan pemahaman teoritis dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu terdapat juga sesi lomba yang disebut ITFI (International Team Field Investigation). Dalam lomba ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari beberapa siswa dari berbagai negara yang kemudian harus melaksanakan tugas berupa investigasi  lapangan seperti di Pantai Cap d’Ail, di Gourdon, di Bendungan Malpasset dan di Bekas Tambang Bosson. Topik yang diangkat dalam kegiatan ini antara lain adalah bencana yang diakibatkan oleh gravitasi. Dalam kompetisi ini peserta harus menjelaskan mengapa bencana tersebut bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Kerjasama dan kreativitas presentasi menjadi penilaian utama untuk menentukan kelompok yang mendapatkan penghargaan tambahan.

Pada IESO tahun ini tema ESP (Earth System Project) adalah “Inhabiting Other Planet”. Di sini setiap kelompok harus membuat suatu riset mengenai kemungkinan hidup di planet lain, bagaimana memenuhi kebutuhan oksigen, kebutuhan pangan dan energi. Disamping itu siswa juga ditanya bagaimana secara astronomis menemukan planet luar Tata Surya. ESP dilaksanakan antara lain di Monako. Hasil riset tersebut  diwujudkan dalam sebuah poster yang kemudian dipamerkan dan dinilai oleh para juri.

Selain melaksanakan kompetisi, para peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Observatorium Cote d’Azur, dan melihat observasi lunar laser ranging dan mengikuti malam umum. Peserta juga diajak mengenal budaya setempat dengan adanya program budaya dan kunjungan ke lokasi wisata yang menjadi cagar alam yaitu Mercantour Alps-Maritimes (wilayah Aoron). Dalam kunjungan ini dijelaskan latar sejarah, geologi dan iklim serta usaha pengembangan wisata ski wilayah Nice.

Setelah menempuh kompetisi yang sangat menantang, Tim Indonesia akhirnya menggondol 7 medali, yaitu :

1 medali emas kompetisi ESP atas nama Rifki Andika
1 medali perak kompetisi ESP atas nama Fransiskus L. Santoso
1 medali perak lomba ITFI atas nama Rifki Andika
2 medali perak untuk kompetisi perorangan yaitu atas nama Rifki Andika dan Fransiskus L. Santoso.
2 medali perunggu atas nama Alse Nabilah dan Fadly Aulia.

Pada IESO tahun ini juara umum diraih  China yang juga salah pesertanya menjadi “absolute winner” (siswa dengan nilai tertinggi untuk Written Test maupun Practical Test pada kompetisi perorangan). Namun, Indonesia juga sangat berbangga, karena IESO merupakan salah satu contoh dari olimpiade yang menuntut kemampuan komprehensif siswa dalam berfikir kritis-analitis, kreatifitas menjawab persoalan secara tepat, komunikasi yang prima, dan kerjasama yang dinamis antar peserta dari seluruh dunia. Ini adalah kemampuan abad ke-21 yang nyata diperlihatkan oleh generasi-generasi berbakat dunia dalam IESO.  

The 12th IESO tahun 2018 akan diselenggarakan di Propinsi Kanchaburi, Mahidol University, Thailand dan direncanakan akan diselenggarakan pada awal bulan Agustus yaitu pada tanggal 8 - 17 Agustus 2018.


Foto. Siswa Indonesia peserta 11th IESO 2017 di Perancis (kiri ke kanan) Rifky Andika, Alse Nabillah, Fransiskus L. Santoso, Fadly M. Aulia.



Tim Pembina Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia (TOIKI)
Ketua delegasi tim IESO 2017 Indonesia.

Drs. Zadrach L. Dupe, MSi.


0 komentar:

Posting Komentar

Tentang TOIKI.or.id

TOIKI.or.id merupakan situs resmi dari Tim Olimpiade Kebumian Indonesia yang menyediakan berita terbaru seputar Olimpiade Kebumian, materi-materi belajar Kebumian dalam KebumianZone, dan toko resmi buku-buku dan peralatan penunjang pelatihan Olimpiade Kebumian.

Kontak TOIKI

Pembina
Dr. D. Hendra Amijaya, ST, MT
d/a Teknik Geologi UGM
Jl. Grafika 2 Yogyakarta 55281

lebih lanjut >>


  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com, improved bySaushine2011

Back to TOP